Sebelum anda baca, set otak anda: NO “SARA” PLEASE
PROLOG:Cerita ini muncul dengan suatu kejadian di bulan Mei 2001. Saat itu saya didatangi tiga orang rekan pasca Maghrib. Satu beragama Islam, dan dua beragama Nasrani. Mereka mengajak saya untuk bermain di suatu tempat, kebetulan tempat tersebut saya sangat suka karena ada di dataran-dataran pegunungan. Bukit Turgo di bawah lereng Merapi, bukit yang terkena serangan awan panas November ‘94
Setelah ber-enam melakukan perjalanan dengan motor selama 30 menit, sampailah kami pada desa terakhir di bawah bukit Turgo. Setelah memarkir motor kami memasuki area hutan kecil tersebut, tiba-tiba tiga teman yang mengajak kami berhenti di ujung kelokan dan menyuruh kami juga berhenti. Mereka berhenti di semacam kuburan yang lebih saya kenal sebagai petilasan, berdoa bersama, menabur bunga dan berbicara:”Kulonuwun Syeh, Kulonuwun kyai..”
Mulailah kami mendaki, dan sampailah kami di atas Turgo yang indah. Dari sana lelehan lava dapat jelas terlihat.. Indah sekaligus mengerikan.. Di sana terdapat petilasan juga yang dinamakan Petilasan “Syech Jumadil Qubro”. Dan mereka juga tahu bahwa dilihat dari silsilah yang tertulis di batu itu meunjukkan bahwa mereka masih ada garis keturunan Rosululloh SAW. Tiba-tiba 3 rekan kami mengatakan: “Sekarang urusannya sendiri-sendiri, silakan kamu pada mau kemana..”
Akhirnya kita memasak dan melihat pemandangan luarbiasa, sambil sesekali kita melihat 3 rekan kami berbeda agama yang sedang ber-ritual bersama. Membakar kemenyan dan dupa, mereka lakukan bersama. Yang muslim mengakhiri dengan sholat malam.
Akhirnya kegatelan hati saya akan kegiatan mereka terutarakan. Saya pun bertanya pada tiga orang itu:”Kalian beribadah dengan cara yang sama. Agama kalian berbeda, dan yang muslim pun kulihat juga tidak ada tuntunannya”
“Aku menghormati para leluhurku yang telah mendahului kami dengan cara MOKSA, yaitu terangkat ke langit tanpa meninggalkan jasad. Mereka tidak mati. Itulah ajaran orang tua kami. Orang tua kami dari orang tua mereka dan seterusnya”
Dari situlah pertanyaan itu mulai berasal. Penjelajahan dari dusun ke dusun pun telah saya coba untuk lakukan. Salah satu kesimpulannya adalah:”Bagi kebanyakan orang Jawa, agama setara dengan budaya, lengkap dengan ritualnya”..
CMIIW
Indonesia, adalah negara dengan multi budaya. 30 an propinsi di Indonesia, dengan pulau-pulau yang terpencar jelas akan menimbulkan pola kecenderungan adat yang berbeda. Akibatnya, budaya pun menjadi berbeda-beda. Budaya, bagaimanapun menjadi aset bangsa. Karena dengan unsur-unsur budaya yang ada seperti kesenian, dialek, adat, kebiasaan, ritual kepercayaan, tersebut menjadi corak anak bangsa. Sementara di sisi lain, manusia memiliki sesuatu yang dianut yang justru kadang muncul dari luar negaranya. Sesuatu itulah yang dinamakan agama.
… Bagaimanapun budaya adalah aset bangsa. Logikanya: Siapa pemelihara aset bangsa jika bukan pemilihnya?..
Agama juga merupakan suatu anutan keyakinan. Dalam agama dipaparkan aturan-aturan Illahi yang merupakan pedoman hidup dari Tuhan kepada manusia. Di dalamnya berisi nilai-nilai seperti hukum, etika, estetika, sejarah, pembiasaan diri, ritual, hubungan masyarakat, sunnah, dan kewajiban. Ternyata, dalam pelaksanaan di masyarakat, seringkali terdapat hal yang bertentangan. Misalnya: Ritual. Ritual dan kepercayaan seringkali menjadi hal yang dipertentangkan. Bagi orang Islam tidak diperbolehkan menyembah patung. Sementara dalam aliran budaya animisme dan dinamisme yang muncul di masa lalu yang diyakini orang Islam sebagai hal yang salah, justru merupakan kebudayaan yang jika ditinjau dari hukum negara, itulah salah satu kebudayaan.

Banyak lagi hal-hal yang bertentangan. Kebudayaan adu ayam, adu kerbau dan kambing, ritual kepada nenek moyang, bertapa brata. Itu dari sisi budaya. Sementara beberapa hal yang berasal dari agama juga akhirnya bertentangan dengan adat. Misal: pemisahan laki dan perempuan dalam suatu acara umum untuk menghindari syahwat, ternyata mendapat tentangan dari kaum budaya, bahwa hal tersebut menutup persaudaraan. Dari sisi agama lain mungkin juga ada, namun kali ini saya tidak begitu paham mengenai hal tersebut.
Wali songo, adalah orang-orang yang sangat bijak, sangat supel, dan luwes dalam mendakwahkan agama. Sebelum beliau-beliau wali songo tersebut menyiarkan agama, mereka telah lebih dulu mengenal budaya. Dengan metoda yang sangat cerdas di masa itu, mereka mengambil penyatuan budaya dan agama. Misal: penyatuan metode peringatan orang meninggal seperti 40 hari, 100 hari, 1000 hari yang sebenarnya merupakan kebudayaan animisme dan Hindu, yang terlanjur mendarah di masyarakat. Walisanga menggunakan metoda, tradisi Yasinan untuk acara itu. Sedikit demi sedikit masyarakat pun akhirnya dapat menerima hal itu. Namun ternyata dalam pelaksanaanya, walisanga pun habis karena wafat, dan ajaran yang mereka bawa, evolusi budaya yang mereka bawa pun mati. Maka hingga kini acara-acara kenduri seperti itu tetaplah ada.
.. Walisanga mengadakan evolusi budaya dari budaya Jawa murni + Hindu kepada budaya Islami sedikit demi sedikit. Namun tatkala mereka mati, maka evolusi budaya juga mati.. Jadilah budaya + agama yang tidak tuntas yang ada saat ini..
Di Jawa Tengah juga saya jumpai fenomena lain untuk yang beragama Nasrani. Pendekatan budaya seperti pemanfaatan Sendang Sono di Muntilan, atau Desa Kapencar di Wonosobo sebagai tempat ziarah Bunda Maria (CMIIW). Dalam bayangan saya, ada kesamaan proses yang dilakukan para pembawa misi, sama dengan yang dilakukan para wali. (CMIIW)
Itu adalah bentuk pendekatan-pendekatan agama terhadap budaya sepanjang hal itu tidak melanggar dan tidak bertentangan. Namun bagaimana dengan kekayaan budaya Indonesia yang bersinggungan dengan budaya? Seperti penyembahan patung atau benda-benda lain, adu domba, adu ayam, pernikahan model terbalik (perempuan melamar lelaki sementara agama Islam dijunjung kuat di daerah itu), dan sejenisnya.
Kita juga akan sering menemui wujud-wujud warisan budaya lain seperti pantangan, tuntunan, perhitungan hari, ilmu titen (memperhatikan kebiasaan), ramalan dan sejenisnya yang merupakan budaya dan ilmu-ilmu turunan budaya bangsa ini. Seluruhnya adalah kekayaan bangsa. Semua daerah pasti memiliki hal seperti ini. Namun kini akhirnya akan muncul pertanyaan: bagaimana status budaya dan agama jika mereka harus bertentangan. Budaya itu di hapus, atau kita mempertahankan sesuatu yang berdosa menurut agama, seperti adu domba dan adu ayam ? Atau justru kita akan mengalahkan sesuatu dengan cara berjudi: Meninggalkan agama demi budaya?
CMIIW, sekedar pertanyaan yang untuk saya sudah tahu jawabnya..
Seperti yang saya tuliskan di Multiply
Cerita ini muncul dengan suatu kejadian di bulan Mei 2001. Saat itu saya didatangi tiga orang rekan pasca Maghrib. Satu beragama Islam, dan dua beragama Nasrani. Mereka mengajak saya untuk bermain di suatu tempat, kebetulan tempat tersebut saya sangat suka karena ada di dataran-dataran pegunungan. Bukit Turgo di bawah lereng Merapi, bukit yang terkena serangan awan panas November ‘94
Juli 3, 2008 at 4:38 am
wahh..mo kasi komen takut tar malah dikira sara..pis aja dech..kekeke..yg jelas, aqu pasti sependapat dgn maz Bimbim..
Juli 3, 2008 at 5:54 am
Yang pasti menurut saya agama yang paling diutamakan,sebab dengan agamalah manusia dituntun untuk menjadi manusia paripurna
Juli 4, 2008 at 9:59 am
Yup memang.. Saya pun memilih agama.. itulah yang datang dari ALloh.
Dan saya juga membedakan:”Mana agama saya yang harus saya ikuti, dan mana yang itu dinamakan budaya arab”
Agustus 25, 2008 at 6:00 am
1jGood idea.0o I compleatly agree with last post. rpo
паркет и ламинат 4s
November 29, 2009 at 9:14 am
Artikel anda bagus sekali. Saya sangat setuju bhw kita harus mempertahankan jati diri bangsa. Apapun agama kita, jgn lupa bhw kita orang indonesia, yg ‘kaya’ dan bijak dlm menerima perbedaan.