Sumber energi alternatif, juga tidak semata-mata hanya itu. Batubara pun sebenarnya masih dapat diupayakan sedemikian hingga mudah penggunaannya.
Di masa penjajahan Jepang, rakyat Indonesia diminta untuk bertanam jarak, yaitu sebuah komoditas tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Konon pesawat terbang Jepang yang sempat menghancurkan Hawaii dan mendukung Jepang dalam Perang Dunia dan kolonialisme Jepang era 40an, menggunakan minyak jarak ini sebagai bahan bakar utamanya. Mengapa sumber-sumber energi alternatif ini tidak dapat muncul ke permukaan? Sudah seharusnya jika sumber-sumber ini yang selama ini digaungkan melalui riset-riset dan ajakan tingkat dunia, seharusnyalah produksi-produksi kendaraan dan benda-benda yang memanfaatkan energi telah dirancang untuk mendukung hal itu. Setidaknya secara terpadu dunia telah merencanakan rancangan induk ini. Mengapa ini tidak terjadi?
Minyak Bumi dan Kepentingan Politik
Sebuah negara yang memiliki minyak bumi, tentu akan didekati oleh kelompok negara adi daya. Jika tidak mampu didekati, maka mereka akan diintimidasi entah dengan berbagai cara. Salah satu negara yang telah menjadi korban adalah Irak. Sebuah dugaan tentang penggunaan nuklir yang belakangan tidak terbukti telah menjadikan negara tersebut tidak dapat menguasai minyak bumi negaranya sendiri. Negara adi daya biasanya juga akan menanamkan modal utama dalam pengolahan benda-benda non-renewable baik berupa produk energi atau bukan.
Dalam tulisannya, Kwik Kian Gie yang berjudul Kontroversi Kenaikan Harga BBM[1]
menjelaskan yang intinya kira-ira sebagai berikut:
Harga minyak mentah di pasar internasional selalu meningkat. Sebabnya karena minyak mentah adalah fosil yang tidak terbarui (not renewable). Setiap kali minyak mentah diangkat ke permukaan bumi, persediaan minyak di dalam perut bumi berkurang. Pemakaian (konsumsi) minyak bumi sebagai bahan baku BBM meningkat terus, sehingga permintaan yang meningkat terus berlangsung bersamaan dengan berkurangnya cadangan minyak di dalam perut bumi. Hal ini membuat bahwa permintaan senantiasa meningkat sedangkan berbarengan dengan itu, penawarannya senantiasa menyusut.
Sejak lama para pemimpin dan cendekiawan Indonesia berhasil di-“brainwash” dengan sebuah doktrin yang mengatakan : “Semua minyak mentah yang dibutuhkan oleh penduduk Indonesia harus dinilai dengan harga internasional, walaupun kita mempunyai minyak mentah sendiri.” Dengan kata lain, bangsa Indonesia yang mempunyai minyak harus membayar minyak ini dengan harga internasional.
Jika meninjau dari apa yang dikatakan Kwik, secara masuk akal, maka harga minyak dunia akan terus naik. Akan ada jeda sekian tahun untuk naik misal dua atau tiga tahun sekali naik. Kondisi ini harus disikapi oleh pemerintah Indonesia bahwa jika memang akan selalu naik maka akan ada kebijakan-kebijakan tertentu yang akan berlangsung sepanjang masa alias jangka panjang. Sayang sekali, kondisi politik dan karakter pelaku politik di Indonesia belumlah dapat diharapkan untuk dapat berpikir jangka panjang. Sebagian besar pelaku politik baru berpikir tahap jangka pendek yaitu sepanjang dia berkuasa atau berkesempatan bermain dalam kancah politik saat itu. Secara awam masyarakat dapat menilai sebuah proses jual beli dan penerapan prinsip ekonomi yang ada dalam tubuh pelaku politik yang berkuasa.
Harga Minyak Bumi Turun?
Harga BBM Turun, adalah kondisi yang sangat jarang. Namun kejadian itu sempat terjadi di bulan Januari 2009. Isu yang muncul di sana adalah bahwa harga minyak mentah dunia turun, sehingga berpengaruh terhadap turunnya harga BBM di Indonesia. Saat itu harga BBM untuk jenis Premium adalah sudah setinggi Rp. 6000,00.
Dalam situs Sekretariat Negara dijelaskan sebagai berikut[2]
:
Dagangan Politik
Dapat dilihat bahwa turunnya harga BBM pada tahun 2008-2009 tersebut memang dekat sekali dengan sebuah peristiwa besar yaitu Pemilihan Umum baik legislatif maupun pemilihan Presiden. Catatan lain adalah bahwa pembuat kebijakan turunnya harga BBM saat itu adalah juga kandidat presiden untuk pemilu 2009, yang jika terpilih saat itu, maka dia akan terpilih untuk kedua kali berturut-turut, sedangkan di Indonesia, seorang Presiden atau pemimpin Kabinet memiliki kesempatan maksimal dua kali berturut-turut untuk terpilih sebagai Presiden. Jika masyarakat paham saat itu, maka sudah dapat dipastikan bahwa di era terpilihnya Presiden tersebut untuk kedua kalinya, tidak akan terjadi turun harga. Bahkan dari rekam jejak (track record) yang ada, kepemilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terpilih tahun 2004 ini memang jarang menuntaskan program yang digaungkannya seperti 100 hari Berantas Korupsi di tahun 2004-2005 yang seolah beritanya hilang ditelan kumpulan bencana Tsunami dan Gempa Bumi. Di masa sekarang, hampir sudah tidak lagi terdengar jejaknya, dimana secara kasar dapat dibayangkan bahwa seperti tidak ada motivasi lagi untuk melanjutkan hal itu.
Catat Pola Pikir Politikus
Sudah seharusnya masyarakat kita makin cerdas dengan adanya rekam jejak gerakan para politikus. Beberapa pola-pola model balik modal, dagang suara, mencari dukungan, pencitraan, dan lain sebagainya. Saya berkeyakinan, pola berpikir dan pola dagang para politikus dari hari ke hari tidak akan berubah. Yang ada adalah kepentingan sesaat, dan tidak ada keinginan untuk lanjut hingga masa depan yang jauh. Saya juga bermimpi suatu ketika masyarakat Indonesia akan menjadi cerdas, dapat mengamati gerak-gerik politikus. Sehingga kejadian tahun 2008-2009 yakni turunnya BBM akan sudah dicatat sebagai gerakan mencurigakan dari pemerintah. Sehingga sudah seharusnya pemerintah berkuasa meskipun dia dapat hingga maksimal dua kali masa kepemimpinan berturut-turut, rakyat akan sepakat cukup satu kali memilih. Sehingga jika terjadi kerugian bukan pada rakyat, namun pada kabinet terpilih.
[1] Kwik Kian Gie. Kontroversi Kenaikan Harga BBM , Maret 2012
[2] Ibnu Purna / Hamidi Rahmat, Implikasi Kebijakan Penurunan Harga BBM 15 Januari 2009
http://bimosaurus.multiply.com/journal/item/777/BBM_dan_Permainan_Kepentingan

Carica, bentu aslinya adalah pepaya seperti pada gambar yang saya ambil di 

