Skip to content

Netter Indonesia Memalukan

Netter Indonesia sepertinya bagi saya adalah netter yang tidak faham sopan santun. Tidak faham tempat dan tidak faham waktu. Melakukan spamming pada group-group terbuka dan promosi bokep ataupun jualannya di sana. Padahal dilihat juga oleh netter luar negeri.
Misal saja pada gambar di bawah, adalah dalam sebuah Fan Page komunitas penggemar Manchester United, posting foto Radamel Falcao pun tak lolos dari aksi vandal netter tak sopan ini.

image

image

image

Bagaimana? Itu adalah salah satu contoh saja. Banyak hal yang lainnya. Semoga kita makin cerdas dan bijak melakukan posting.

Andai Mel Shandy feat Tantri…

Posting ringan sedikit ah..
Seisi komunitas ex-Multiply mungkin faham, saya adalah bagian dari era 80an-90an. Era dimana berjayanya musik baik Indonesia maupun dunia. Saya jelas pecinta musik era 80-90 an. Saya dikenal jarang mau mendengarkan musik jaman sekarang. Saya hanya mau mendengar lagu yang ada di sekitar era tersebut. Apalagi kalau sudah berbicara Rock, Slow Rock, Jazz, hingga Neo Classic, darah saya tersirap untuk ikut nimbrung. Saya justru malas berbicara musik masa kini, yang menurut saya aneh, misal seperti Sm*sh, cherr*****, atau justru kan*** band yang agak lalu, ung*, pete*pa*, dan sejenisnya, tidak masuk dalam daftar dengar saya :D

Tapi tidak untuk Kotak. Kotak adalah salah satu group music Indonesia yang masih memilih karakter sendiri melalui jalur Rock. Komposisi instrumental dan vokal khas Tantri yang penuh tenaga, berjalan diatas rel ritme yang berjalan menghentak, membawa daya hipnotis untuk meng-akselerasi aktivitas kita. Disarankan sekali untuk aktivitas pagi, atau ketika saat harus kerja ternyata mengantuk :D.

Di masa lalu saya penggemar berat suara teh Mel Shandy. Suara dengan power yang tinggi, teknik nafas, timbre, ritme, dan daya ledak vokal hasil binaan pesantren (maklum dia seorang qori), bisa menghantam malam anda yang seharusnya tidur menjadi ingin berlari. Terutama saat teh Mel Shandy berfeat dengan Metal Boyz. Skill para punggawa Metal Boyz dikawinkan dengan vocal power Mel Shandy, jadilah sebuah kendaraan spirit sepenuh tenaga. Bedanya dengan group jaman sekarang, group jaman dulu gemar sekali memupuk dominasi di lapis lead guitar. Kotak, justru memainkan dominasinya pada rhythm guitar dibalas dengan hentakan drum feat bass, siap mengawal suara powerfull Tantri.

Belakangan saya sering memasang playlist di Youtube yang berisi lagu-lagu full power seperti dua group di atas, ditambah dengan /rif, jamrud, Cokelat, Power Metal, dan PAS Band. Untuk baratnya, jelas semacam Dream Theater, Van Halen, Iron Maiden, Deep Purple dan sebagainya. Saya malah membayangkan suatu yang mustahil.. Jika teh Mel Shandy masih aktif ngerock, dan berduet dengan Tantri, saya bisa bayangkan bahwa kepala ini bisa meledak :D

Sayang sekali, kopi musik online teh Mel Shandy sulit didapatkan dalam kondisi high quality. Biasanya hasil dari ripping teman-teman luar biasa yang ingin mengabadikan musisi-musisi masa lalu. Namun kadang dengan kualitas semacam itu sudah cukup untuk kita membayangkan bagaimana dahsyatnya musisi masa lalu. Berikut di bawah saya embed media Youtube lagu dari teh Mel Shandy yang kencangnya belum paling kencang. Kemudian di bawahnya akan diimbangi dengan kekuatan vokal Tantri berikut dengan band Kotak nya. Rasanya mendengar seperti ini, seperti memang Rock tak akan pernah mati.

Shame On You Abbot

tony-abbott

Warga Australia sudah sepantasnya malu dengan pernyataan Perdana Menterinya belakangan ini. Ternyata, bahwa apapun yang dilakukan oleh pemerintah Australia, tidak dilakukan secara tulus. Abbott, Perdana Menteri mereka menunjukkan perangai buruk, kekanak-kanakan, dan sangat memalukan, setelah memberikan pernyataan yang bersifat mengungkit bantuan kemanusiaan ke Indonesia (tepatnya Aceh) jaman Tsunami 2004.

Dia mengungkit bantuan kemanusiaan tersebut karena kehabisan cara untuk menyelamatkan dua penjahat narkoba asal negeri tersebut. Seharusnya dia malu, memiliki warga negara penjahat, dan saat akan dieksekusi justru dia membelanya. Sangat memalukan.

Bantuan kemanusiaan itu adalah sifat manusiawi dalam menolong sesama, humanity! Ini menunjukkan bahwa perdana menteri Australia tak memiliki sifat kemanusiaan. Yang ada hanyalah sekadar hutang dibalas hutang. Dia harus faham bahwa kejahatan narkoba di Indonesia adalah “tanpa ampun”. Seperti di pesawat terbang telah di jelaskan “penalty of death”

No Abbott! Spit to you! Siapa mengusik Aceh, anda berhadapan dengan saya :)

Buat teman-teman yang telah berinisiatif membuat Tagar #KoinUntukAustralia: You are ROCK!!

Gambar diambil dari http://www.theglobejournal.com/images/web/2015/02/tony-abbott.jpg

Reaktif vs Kreatif – Cerita Kita yang Semakin Bodoh

Beberapa waktu ini saya mulai melihat lagi blog-blog saya yang terlantar akibat tak pernah diperbaharui. Kemudian saya periksa lagi isi twitter saya. Kemudian ke facebook saya juga. Tak lupa saya menyambangi blog-blog atau backup blog teman-teman saya. Saya pun tak lupa menyambangi twitter mereka.

Dari beberapa yang saya temukan itu, akhirnya saya mendapatkan hipotesa, bahwa semakin hari kita semakin bodoh. Kita hanya semakin pandai bereaksi atas apa yang terjadi di sekeliling kita, apa yang terjadi. Sementara kita melupakan apa yang jadi tanggung jawab kita. Tak lagi pernah berkreasi, tak lagi pernah membangun sesuatu yang baru, semua tinggal bereaksi atas opini-opini diri. Semua orang jadi ahli politik, semua orang jadi ahli agama.

Yang untung adalah, siapa yang membisniskan media yang kita gunakan ini. Media berita, ISP, Seluler dan lain sebagainya. Blog, media jejaring sosial, akhirnya hanya berisi caci maki, postingan narsisme, isu selebritis, pencitraan diri bahwa dirinya hebat, dirinya didzalimi dan segudang content seperti itu.

Pada akhirnya memang saya lihat. Terutama setelah pilpres ini, bangsa Indonesia yang saya kenal, jauh lebih dungu, lebih primordialis, lebih egosentris, hanya bisa bereaksi, menyalahkan pihak lain, konsumtif, dan jauh dari kreatif.

Lantas kapan kita akan membangun..

Pemerintahan dan Nasib Kita Sendiri

larijok

Pemerintahan sudah ditentukan squadnya. Kita masih sama saja? Seberapa pengaruh mereka buat kita? Bagaimanapun kita harus kembali bekerja. Banyak pesan presiden pada kita. Presiden mengangkat seorang perokok, bertatto, urakan, apakah sembarangan beliau memilih? Tentu ada pesan bahwa apakah kita yang merasa lebih baik dari seorang perokok, tatoan dan urakan ini, kenyataannya lebih baik dari menteri tersebut?
Kabinet telah dipilih. Jangan sampai mereka dibayar hanya untuk pelampiasan kemarahan kita akan kegagalan kita. Karena kita sering tidak adil. Kita merasa gagal, namun menyalahkan bagaimana pemerintahan ini berjalan..
Mereka sudah dipilih. Semoga mereka dapat membangun negeri ini, sebaik mungkin..
Mari bekerja bersama mereka bekerja..

Perbedaan Tanggal Idul Haji?

Perbedaan tanggal Hari Raya Idul Qurban ternyata lebih memusingkan ketimbang Idul Fitri. Mengapa? Jika Idul Fitri, siapa yang telah memasuki 1 Syawwal maka dia telah masuk ke Hari Raya. Berlainan juga dengan Idul Adha. Idul Adha ini terjadi pada tanggal 10 Zulhijjah. Sementara seringkali momen yang dijadikan acuan adalah bukan siapa masuk tanggal berapa, namun agenda terjadinya wukuf di Arofah.

Tahun ini jelas terjadi perbedaan hari raya Idul Adha. Menurut penanggalan pemerintah akan terjadi pada tanggal Ahad 5 Oktober 2014, sementara ada pihak yang mengatakan bahwa karena tanggal 3 Arofah sudah wukuf maka tanggal 4 lah Idul Adhanya.

Bagi saya, benar semua sajalah. Ini karena adanya perbedaan moment penentuan dan juga perbedaan waktu. Indonesia Bagian Barat ada di format waktu GMT+7. Sementara Arab Saudi ada di GMT+3. Indonesia memiliki waktu 4 jam lebih dahulu untuk memasuki hari berikutnya. Sementara, saat di Arab sana wukuf tanggal 3, kemungkinan Indonesia telah memasuki perbatasan hari antara tanggal 3 dan 4 Oktober.

Bagi yang beracuan : Lebaran itu tergantung pada 1 hari setelah Arab wukuf, ya kemungkinan tanggal 4 dia belum akan berlebaran karena Arab belum masuk tanggal 4. Maka dia akan berlebaran tanggal 5 Oktober, dengan konsekuensi dia akan dianggap beda hari dalam berlebaran (terhadap Arab) padahal jamnya berdekatan.

Bagi yang beracuan : Toh Arab lebaran tanggal 4, dan dia tetap mengambil aman lebaran tanggal 4, maka dia akan berlebaran di tanggal 4, dengan konsekuensi dia mendahului Arab dalam berlebaran. Karena saat kita tanggal 4 dan kita Sholat Ied, Arab belum masuk Hari Raya. Masih tanggal 3. Tertinggal 14 jam.

Nah, bagi saya, lebih memusingkan lagi karena sudah beberapa bulan ini saya tidak mendapatkan tambahan libur. Libur Idul Adha yang saya harapkan ternyata tetep saja jatuh di hari Ahad. Mengambil jatah berbedapun percuma, karena tetep saja jatuh hari Sabtu yang libur juga..

Ah sudahlah..

Aliran “Tanpa Jangan”?

.
.
Pada anak jangan katakan: “jangan makan itu”, tapi katakan: “makan ini saja”
Pada anak jangan katakan: “jangan berlari”, tapi katakan: “jalan saja”
.
.

Begitu bunyi salah satu propaganda kampanye aliran tanpa jangan. Banyak niat baik yang ditumbuhkan banyak kalangan dalam menyebarkan cara mendidik anak yang benar. Mendidik anak memang tidak mudah. Anak memiliki karakter sendiri dan karakter keturunan dari orang tuanya. Sehingga tiap anak memiliki cara mendidik yang berbeda-beda. Ada anak yang membutuhkan sedikit lebih ketat, ada anak yang membutuhkan dukungan positif biasa.

Belakangan muncul generasi baru, yang mengusung propaganda “tanpa jangan”. Anak dihindarkan dari kata “jangan”. Dalam beberapa propagandanya, aliran tanpa jangan ini, mengajak menghilangkan kata “jangan” diganti dengan kata perintah yang sebaliknya. Salah satu alasannya adalah menghindari tekanan pada anak dalam tumbuh kembangnya. Menghindari juga kesan bahwa orang tua itu tukang melarang, dan lain sebagainya.

Saya sendiri sebagai seorang yang sudah memiliki anak, dan sudah mulai mendidik, justru bingung dengan aliran tersebut. Saya makin bingung ketika melihat anak teman yang apa-apa tak pernah dilarang sehingga berbuat sesuka hati. Akhirnya sayapun menanyakan pada teman yang memiliki background pendidikan anak dan psikologi. Apa yang saya dapat?

Dari mereka, justru saya mendapatkan, biarkan anak tumbuh dengan wajar. Menghadapi sangkalan “jangan”, melatih diri menerima sangkalan dan mencernanya, serta memantau sejauh mana mereka bereaksi terhadap sangkalan. Pada masa dewasa kelak, sang anak tentu tetap akan menghadapi sangkalan dan larangan dari pihak lain. Kapan lagi jika tidak dilatih sejak masa kecil? Justru ditakutkan anak yang tidak pernah dilarang dan tidak pernah dihadapkan pada hal yang berbeda dengan keinginannya adalah, ketika terbawa hingga dewasa, akan menjadi pribadi yang manja yang seakan dunia akan selalu tidak berani melarangnya.

Saya juga pernah menanyakan pada beberapa rekan “aliran tanpa jangan”, mulai kapan anak tidak lagi tidak boleh dilarang? Hingga sekarang saya belum menemukan jawab. Jika yang dimaksud aliran tanpa jangan itu adalah anak jangan sampai stress, bagaimana dengan anak yang terlalu banyak diperintah? Itu juga “tanpa jangan”. Sama saja efeknya. Sebuah penjelasan lain menyebutkan bahwa mereka mengganti kata “jangan” dengan “tidak”. Namun konteksnya sama saja. Sangkalan. Anak kecil juga tidak dapat membedakan kata “jangan” dan “tidak”. Dia hanya faham sangkalan.

Memang ada, beberapa anak yang tidak bisa mendapatkan perlakuan larangan. Ini pernah saya temui di lingkungan kerabat saudara saya. Anak ini membawa kelainan down syndrome yang salah satu therapy-nya adalah tidak boleh dilarang. Jajan, berlari, dan lain sebagainya dia tidak dilarang. Ada yang saya khawatirkan yaitu ketika dia melempari anak lainnya dengan batu bata. Bagaimanapun juga naluri orang tua juga akan berkata bahwa seseorang dalam bahaya dan hazard-risk yang diakibatkan oleh anak tersebut. Maka sayapun biasanya spontan melarang : “Jangan lakukan!” Maklum bahwa saya adalah seorang yang biasa melarang.

Namun, pada akhirnya kembali lagi pada satu hal. Orang tua juga memiliki cara sendiri untuk mendidik anaknya. Karena orang tua ini cenderung lebih faham karakter anaknya sendiri. Meski ini tidak sepenuhnya benar. Sementara bagi saya, mendidik anak itu perlu kelengkapan. Hal-hal yang akan dia hadapi ke depan, mengajarkan motivasi, mengajarkan budi pekerti, dan mengenalkan sekitar, termasuk apa yang bakal dia hadapi kelak itu tidak harus sama dengan apa yang diangankan. Saya juga tidak ingin ketika kelak anak tersebut dewasa dan harus menghadapi segala hal yang mengecewakannya, dia tidak bisa menerimanya dengan lapang dada.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.