Lanjut ke konten

Soal Hitung-hitungan Anak TK (masih tentang kapitalisme pendidikan anak)

prismasuck

Gambar ini, bukan soal untuk anak SD. Ini saya dapatkan pada soal-soal hitung-hitungan anak saya yang masih TK nol besar. Soal ini harus selesai dalam waktu 1 jam untuk 50 soal. Semula memang saya dikeluhi istri tentang pelajaran tambahan yang wajib dihimbaukan pada semua anak TK Pertiwi Setda Kabupaten Wonosobo. Alih alih bilang setda, malah setdah!

Saat itu saya memilih agar anak saya tidak usah belajar dan mengerti secara alami pelajaran itu. Pelajaran itu adalah pelajaran Jarimatika yang mengajarkan cara cepat dalam berhitung. Saya tidak menolak cara tersebut. Namun saya tidak setuju karena anak TK itu seharusnya baru tahap mengenal angka dan huruf. Namun mengapa sudah diajarkan rumus praktis yang akan mengajarkan anak cara yang pragmatis di kemudian hari?? Saya tengok Zaki anak saya setelah sekolah masih ada PR berhitung Jarimatika yang diadakan oleh lembaga swasta bekerja sama dengan TK nya, kemudia sore masih harus mengaji, sementara untuk Senin pulang sekolah sudah jam 10.30. Itu pun teman-temannya sudah pada memilih GURU LES di luar (yang juga guru sekolahnya) untuk belajar membaca dan berhitung.

Saya memang membiarkan anak saya akhirnya tidak belajar yang perminggunya diberikan PR sebanyak 10 halaman yang masing-masing berisi dua larik soal, yang masing-masing berisi 4 deret hitungan. Saya toh jaman dulu tidak harus melewati hal itu di TK, toh saya jaman kuliah lancar saja melewati semua kalkulus.

Saya memandang hal ini mengerikan. Pragmatisme disertai kapitalisme para pencari konsumen di bidang pendidikan, dan kebetulan juga mengajarkan hal yang sifatnya instan yang tidak mendasar pada anak. Para peserta jarimatika di usia dini cenderung ragu menjawab ketika disodorkan lima buah jari tangan kita: “INI ANGKA BERAPA?” Mereka masih bingung untuk membedakan apakah itu angka 5 ataukah 9. 5 Pada hakekatnya memang hal itu angka 5. Sedangkan 9 didapat dari rumus praktis yang dipelajari dalam jarimatika.

Saya kurang tahu, apakah hal ini terjadi karena ketidak tahuan atau kenekatan. Namun sebenarnya, edaran tersebut harusnya telah sampai ke tingkat desa. Edaran yang menyebutkan bahwa anak kecil, usia TK dilarang untuk diajarkan CALISTUNG, kecuali pengenalan. Ini sudah bukan pengenalan lagi. Ini pelajaran anak SD. Bahkan test masuk SD pun, tidak diperkenankan menggunakan CALISTUNG ini. Saya juga kurang tahu, apakah penyelenggara jarimatika ini juga tidak mengetahui kebijakan tersebut, atau juga nekad karena butuh income. Saya menghormati semua pihak dalam mencari nafkah. Saya sendiri hidup dari dunia pelatihan, a.k.a kursus. Namun kita harus faham siapa target kita, apakah kita memaksa, dan tentu kita faham regulasi atau kebijakan yang ada dalam cara kerja kita.

Saya hanya merasa kasihan pada anak saya saja. Sudah saja orang tuanya dan kakek neneknya “galak” masih juga dapat tekanan di sekolah yang belum sesuai dengan kemampuannya. Mungkin dipaksa mampu pun mampu, namun saya khawatir memori otak anak akan bekerja keras dan memaksa pada bagian sosialisasi pemahaman nilai-nilai kehidupan, akan hilang dimakan oleh soal-soal pengajaran pragmatisme. Maka saya percaya mengapa para anggota DPR, orang-orang politisi, dan lain sebagainya bertingkah seperti anak kecil yang tidak punya nilai. Mereka pintar, tapi tak punya nilai, karena masa muda dan kecilnya habis untuk belajar pelajaran pragmatisme.

Rujukan:

http://www.paudjateng.com/2013/07/kemdikbud-tegaskan-larangan-ujian.html

http://www.bppaudnireg1.com/beritautama/calistung-tidak-boleh-diajarkan-langsung-di-tk.html

Edaran Kemdiknas dapat diunduh di sini:

“Obat” dan “Hiburan” itu Bernama Berita Politik

coblos

Dulu, saya kadang merasa bahwa berita politik di koran dan di media elektronik itu penting. Kadangpun kita berdebat untuk membela partai atau gerakan politik yang berdekatan dengan kita. Sejak 98-lah, seakan-akan kita semua jadi orang yang hebat, pinter dalam politik, merasa bangga ketika sok-vokal dimanapun. Terutama dalam memberikan dukungan terhadap apa yang kita bela. Kita sangat hebat. Berita politik menjadi sangat laku dan bisa menyita waktu dan perhatian kita. Acara debat settingan, begitu menghibur kita, dan memberikan kita alasan untuk menunda apa yang harus kita kerjakan. “Penting ini”.. begitu sepertinya..

Tapi sekarang, saya membuktikan. Itu semua tidak berguna. Kita cuma jago membohongi diri kita sendiri. Malas bekerja, namun beralasan bahwa acara politik itu penting seperti kita sangat tergantung sekali padanya. Seperti kita itu tokoh politik saja. Atau seperti kita itu sangat tergantung pada mereka yang ada dalam posisi kendali politik. Bukti beberapa kali pemilu toh pada akhirnya kita cuma harus ikut pada keputusan, dan sama saja bekerja pada menuntut gaji lebih tanpa mau berusaha lebih, ketika menjumpai kegagalan atau kekecewaan, jago sekali menyalahkan apa yang mengelola kita, ataupun penyelenggara pemerintahan yang berlandas politik.

Sekian kali pemilu, sekian kali juga tetap mesti terjadi hal seperti itu. Orang makin dimanjakan dan memanjakan diri dengan berita dan isu-isu sepintas yang hanya berisi orang gila dan peran sandiwara para badut tak jelas itu. Kita tetap saja memanjakan diri dan dimanjakan oleh badut yang butuh belaan politik itu. Sementara kehidupan di depan kita menuntut kita bergerak dan kita masih membela diri dengan hal-hal tak penting macam itu. Sampai-sampai kita rela menghabiskan waktu demi apa yang merasa benar kita bela itu.

Jaman telah berganti. Memang itu semua pilihan. Jika bisanya kita hanya sibuk dengan data-data tak penting itu, ya itu juga pilihan. Selamat menikmati dimanjakan berita dan memanjakan diri dengan politik. Bagi saya, jika itu penting pun, ada banyak hal yang lebih penting daripada itu. Hal yang jauh berkorelasi positif secara langsung terhadap nasib kita dan sekitar kita. Setidaknya untuk saat ini. Kembali ke pekerjaan.

Ilustrasi: lipat semua, coblos semua, siapa mau melawan?

Masjid Kanisius? Serius?!

Saya pernah mengerjakan sebuah pekerjaan di sekitar kawasan jalan Gejayan Jogjakarta, atau tepatnya Sleman :D. Saat itu harinya hari Jumat. Tepat menjelang masuk waktu sholat Jumat, rekan-rekan satu ruangan mengajak untuk mulai Jumatan. Saya pun tanya : “Di masjid mana kita jumatan?”. Jawabnya:”Masjid Kanisius”

 

Berada di sekitar wilayah Deresan Yogyakarta, tempat itu memang dikenal sebagai kompleks Kanisius. Masuk ke dalam sana, di hari jumat memang sangat ramai. Tapi apakah Kanisius menyediakan masjid?

kanisius

 

 

Ternyata yang dimaksud adalah benar-benar masjid. Sebuah masjid yang berada dekat kompleks Kanisius Yogyakarta. Masjid itu ada di balik pepohonan, utara jalan.

masjid-deresan

 

Ini dia penampakan masjid kanisius itu. Dia adalah masjid Nurul Jannah Deresan Yogyakarta :D. Tempatnya enak. Bisa buat tidur-tiduran hehehe. Di depannya ada sekolah dan lapangan yang lapang, cukup buat melapangkan hati.

masjid-deresan__

Pariwisata, Antara Komoditas dan Kapitalisme Warga

IMG_0697

 

Liburan kemarin, saya coba membawa anak istri naik ke Dieng. Saya coba menjangkaunya dengan melalui jalur Garung – PLTA – Telaga Menjer – Kreo – Kejajar dan Dieng. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat di daerah Pathak Banteng ternyata ramai macet, karena ternyata ada salah satu rumah yang dijadikan basecamp pendakian Gunung Prau yang dulunya sepi tak ada orang mau naik, kini menjadi komoditas yang sangat menjanjikan. Setelah bukit Sikunir, kini pusat perhatian obyek wisata Dieng mengarah ke Gunung Prau. Sebuah bukit di atas Dieng yang memiliki Panorama luar biasa juga. Di atas sana bisa melihat awan di bawahnya, Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran dan Lawu.

Masyarakat sangat diuntungkan dengan naiknya perekonomian akibat efek lanjut dari komoditas yang telah disediakan Tuhan tersebut. Dari homestay, warung makan, pemandu, porter, dan lain sebagainya, adalah anugerah untuk penduduk setempat. Berbagai macam tempat wisata yang semula terselubung di area Dieng, kini mulai satu persatu tersibak dan menjadi sebuah obyek yang menarik untuk dikelola. Meski demikian ternyata masih banyak juga obyek indah yang tidak diketahui banyak orang.

Sayangnya, dalam sebuah parkir motor, saya merasakan betapa warga setempat pun sudah mulai melakukan praktek kapitalisasi, apa-apa uang. Bahkan penyediaan ongkos masuk daerah pariwisata tanpa karcis. Tidak satu dua. Menengok hal yang sama, di Gunungkidul daerah yang pariwisatanya sama gencarnya dengan Wonosobo – Banjarnegara, ternyata jangkauan jemputan / mencari pelanggan Gua Pindul dan sekitarnya sudah masuk di area Bukit Pathuk yang jaraknya 30-40 KM dari lokasi. Sungguh usaha yang kemaruk hebat. Bahkan di daerah antara Magelang dan Kulonprogo pernah ada wisata kerokan, sebuah usaha wisata yang konyol dan tak masuk di akal. Lantas para marketing membawa turis dipaksa melihat kerokan seperti halnya orang melukis tengkorak di atas kulit orang lain.

Saya, kali ini, lebih melihat pariwisata itu sebagai usaha Kapitalisme yang memanfaatkan narsisme orang. Jaman moderen tiap orang dapat memiliki media jejaring sosial, proses kapitalisme itu dengan mudah menggapai misinya, mengeruk keuntungan sebesarnya tanpa effort yang memadai, bahkan kadang dilakukan dengan pencurian konten, membohongi publik, yang penting keinginan akan keuntungan tercapai.

Kalau sudah begini, saya ingat kata kanjeng Konfusius :

“Orang hebat itu tahu mana yang benar. Orang rendahan itu tahu mana yang akan dijual”

Mengelola Rasa Superioritas

someday_when_sunset

Seorang karyawan sebuah perusahaan di Bandung berkata pada saya:

“Tuh pak manajer sebenarnya juga belum tentu tahu cara ngoperasikan RELAY. Masih mending aku”.

Sementara suatu ketika saya tanyakan ke pak manajer itu,

Saya: “Pak, Bapak tahu mengoperasikan relay?

Manajer: “Insya Allah

Saya: “Kata mas Asep, Bapak nggak bisa pak?

Manajer: “Saya membiarkan dia merasa lebih pintar dari saya. Jika itu membuat dia produktif. Karena kadang orang butuh diakui kepandaian dan perannya.

 
Di lain kesempatan di tahun 2007-an saya bertanya pada sesama instruktur

Saya: “Pak kenapa sampean milih ngajar saja?

Teman: “Aku itu orang sombong sama ilmu pak. Tapi percuma kalau buat klaim-klaiman bahwa aku pinter. Mendingan energinya buat ngajar, jelas tambah pinter, dan orang juga tahu kan aku juga pinter, dan aku entuk pahala hahaha

 

Di lain kesempatan saya melihat juga ada seorang yang menurut saya kehidupannya biasa-biasa saja, tapi banyak menghabiskan waktu dan uangnya untuk mengurus tetangga sekitarnya. Suatu ketika dalam sebuah ronda malam beliau ditanya oleh tetangganya :

A: “Pak, kowe goblog ya, setiap dapat uang selalu dibuat ngurusin orang lain

B: “Aku ki isih bisa mangan. Timbangane aku ngaku sugih, mendingan tak buktekke yen aku pancen sugih, menehi wong

 

Terserah apa niatnya, tapi bagi saya, ketiga hal itu membuka mata hati saya. Betapa banyak orang yang butuh mengaku pandai, butuh menampakkan kepandaian di depan orang lain, pengin terdengar heroik, paling hebat, paling dahsyat. Apalagi jaman media sosial sekarang, betapa banyak istilah-istilah yang tidak diketahui banyak orang lain digunakan oleh kita yang juga tidak tahu, agar kita tampak pandai. Sayangnya, sekali lagi kita miskin aksi. Kita hobi beradu opini tanpa fakta, dan beradu pelintir fakta. Kita tidak mampu mengelola kehebatan kita sendiri dengan cara yang lebih bermanfaat. Kita lebih mementingkan menang bicara, menang wacana untuk kepuasan hati sementara. Kadang bahkan kita butuh berbohong untuk melakukan semua itu.

Seharusnya kita belajar dari pepatah Jawa: “Menang tanpa ngasorake“, yaitu kemenangan yang tidak perlu membuat orang lain merasa kalah. Sementara pepatah lain berkata :”Kepengecutan terbesar adalah tatkala kita menampakkan kekuatan kita di hadapan yang lebih lemah“.

Banyak hal yang dapat saya ambil dari tiga kisah itu. Mengapa si Manajer menjadi Manajer, karena dia mampu meredam superioritas diri, dan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berperan. Si instruktur melepas energi kesombongannya pada bidang yang sangat bermanfaat bagi orang lain. Sementara si bapak itu, sangat menyinggung kita agar senantiasa bersyukur dengan apa yang ada.

 

Saya rasa ketiga kisah diatas ini, lawan bicara saya benar-benar ada pada pihak yang sebenar-benar pandai.

Illustrasi:Sunset Pantai Srandakan.. Karena Matahari juga pasti tenggelam..

Kapitalisme Di Mana-mana

80338-bocahsinau

Istriku : “Mas, Zaki nilai hitung-hitungannya 70.”

Saya : “Terus kenapa?”

Istriku : “Gak apa-apa, cuma kemarin ditanyai kok Zaki cuma dapat segitu?”

Saya: “Terus dijawab apa?”

Istriku: “Ayahnya Zaki tidak suka, dan ingin membiarkan anaknya belajar biasa saja.”

Istri saya menyodorkan lembaran ulangan hitung-hitungan PRISMA Jarimatika untuk anak kelas Nol Besar, yang diadakan sebagai jam tambahan di TK Pertiwi Setda Kabupaten Wonosobo. Saya merasakan bahwa dulu jaman saya TK juga tidak perlu seperti itupun saya bisa dapat nilai Kalkulus A beberapa kali di jaman kuliah. Bahkan dulu jaman saya sekolah saya juga merasa bodoh dan tak bisa apa-apa. Sedangkan yang dulu pandaipun juga tidak keliatan amat jaman sekarang.. Tidak usah saya lah.. Toh Einstein dianggap gagal sekolah, dan Einstein bisa menuduh balik bahwa sekolah gagal mendidiknya.

Bagi saya, Jarimatika, Sempoa atau apalah namanya yang dipaksakan pada anak usia dini untuk mencari keuntungan adalah sikap kapitalisme. Coba bayangkan. Anak belum faham apa itu angka, ternyata sudah disodori rumus praktis. Tanyalah pada anak TK yang belajar jarimatika, sodorkan lima jari anda, tanyakan:”Ini angka berapa. 5 atau 9″. Sebagian mereka akan bingung. Hakekat angka adalah 5, sedangkan menurut jarimatika adalah 9. Namun memang Jarimatika atau apalah namanya ini juga hanya merupakan usaha kapitalis dalam mencari uang. Salah satu URL dapat dilihat di http://prismakalkulatortangan.co.id/peluang_usaha/ yang mana model franchise ingin dikembangkan sesuai dengan pola-pola bisnis.

Kapitalisme, saya anggap sebagai sebuah penghisapan, atau eksploitasi satu pihak terhadap pihak lain. Pemaksimalan prinsip ekonomi yang seharusnya sekecil effort dengan setinggi profit, dimaknai dengan “no-service” “high-profit” dan lain sebagainya. Ataupun mengambil berbagai keuntungan dengan seolah-olah benefit, namun sebenarnya memiliki resiko-resiko yang tidak baik untuk obyek jualan mereka.

Beberapa waktu lalu saya pernah posting tentang keluhan saya tentang anak kecil yang telah dibebani dengan banyak hal. Saya heran saja, apakah para guru tersebut tidak faham tentang adanya Edaran tentang tidak disarankannya anak kecil belajar CALISTUNG? Telah banyak teman-teman saya yang secara akademis pandai hingga Strata berapapun, kepandaian sejak sedini mungkin namun mereka hanya akan bisa sebatas itu, tidak faham bagaimana bersosialisasi, ajaran kesopanan, bahkan tak sanggup bertempur di arena kehidupan. Hanya bisa mencari jalan pragmatis, sesuai apa yang diajarkan sejak kecil.

Saya tidak ingin anak saya dianggap pintar di usia dini. Saya hanya ingin sejarah “kepandaian” itu tidak lagi berulang. Karena berapa lama kita harus belajar Matematika, Jarimatika, Sempoa dan lain sebagainya yang sebenarnya sangat mudah dipelajari ketika telah sedikit lebih dewasa, namun mereka lupa, butuh waktu belasan tahun untuk mendidik karakter anak, sifat, sikap dan perilaku emosional.. Saya dulu jaman TK, TK Katolik. Tidak diajari lebih dulu seperti itu, hanya dikenalkan. Toh juga bisa-bisa saja.. Buat para ortu, selamat berbangga saja, waspadai masa depannya.

 

Borjuis itu bukan keadaan. Borjuis itu watak. Borjuis itu bukan harus orang kaya.. Kapitalis bisa dilakukan siapapun, berlabel apapun!

Berlari…

darkhorse

 

Berlari, dan kembali mendaki, itu mungkin kata yang cocok saat ini. Saya hanya mengingat, 15 tahun silam di pendakian Gunung Sumbing, saya diminta mengantar 1 tim dari Jogja. Di pertengahan terdapat seorang yang manja dan tidak dapat lagi dihibur ataupun dibangkitkan semangatnya. Akhirnya kami memilih menempatkannya di satu tempat, kami tinggalkan dia di tempat yang aman, dan kami memuncak. Kami tidak ingin satu team ini gagal hanya karena satu orang.

Hampir tiga tahun silam, saya juga memilih keluar dari sebuah team. Ibarat kereta, hanya satu yang dapat berlari melaju, dan yang lain menjadi beban laju. Saya memilih keluar dari ikatan dan ternyata dapat melaju.  Toh jika ternyata pada akhirnya melaju sendiri itu juga sangat nyaman. Kita tahu kapan ingin berhenti, mengatur nafas ataupun kembali berlari.

Kali ini hasrat ini juga hanya ingin sekedar berlari, menerjang apa yang menghalangi, melewati apa yang merintangi, dan menanggalkan lebih dulu apa yang membebani untuk mencapai tujuan..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.