Skip to content

Satu hari di bulan Maret,10 tahun silam

Maret 31, 2008

14 Maret 1998, awal-awal munculnya demonstrasi 98, kami lalui dengan satu kegiatan. Seperti biasa, di salah satu Sabtu dalam satu bulan, kami melakukan perjalanan khusus yang bernama:pendakian. Kali itu gunung Sindoro lah yang menjadi sasaran pendakian kami. Saya masih ingat, berangkat dari kost saya tiga orang: saya sendiri, mas Teguh yang entah kini berada di mana, dan om Endy. Kami berangkat dengan sedikit ada kontroversial dari ibu kost tercinta. Tanggal itu pula adalah tepat satu bulan (14 Feb 98) setelah kami juga mengadakan perjalanan pendakian ke Merapi di saat Merapi mau ikut-ikutan demo dan diperseru lagi dengan turun gunung via Bebeng.

Dengan bermodal bis Djati Nugroho kami sampai juga di desa Kledung, perbatasan Temanggung – Wonosobo tempat pendakian Sindoro yang paling ramai. Sisi lain untuk pendakian Sindoro dapat juga melewati Sigedang-Tambi dari sisi barat, dan satu titik lagi pendakian via Utara yang banyak celengnya. Setelah memasuki pos pendakian di lereng Sindoro tersebut kami sempat berbincang-bincang dengan sesama pendaki dari UGM yang baru saja melakukan pendakian seorang diri. Dia adaalah mahasiswa Faperta UGM. (UGM dulu beda dengan sekarang lho.. sekarang gak ada yang berani naik gunung). Dia jugalah yang menceritakan bahwa pendakian kami nantinya akan menemui banyak masalah akibat hujan lebat yang mengguyur gunung tersebut.

Pendakian kami mulai pukul 22.00 dengan peserta (yang masih teringat): Saya, Endy, Ohm Teguh, Agus-Magelang, Yusup, Wawan, Arif, Lani, Ratih, Asih, Yunan .. pokoknya kami berangkat sebanyak 16 orang. Dalam pendakian tersebut, kami sengaja berpencar menjadi beberapa rombongan untuk mempermudah koordinasi dan pembagian beban. Robongan saya terdiri dari Endy, saya dan Teguh. Dengan beban yang lumayan berat karena membawa gembes 10 liter air, plus 5 botol aqua besar untuk persediaan teman-teman, ternyata menjadikan kondisi lekas lelah. Namun akhirnya dengan tekat bulat, kami pun menebas gelapnya malam.

Tiba-tiba saya melihat cahaya di sebelah kanan.. dan kami segera tersadar bahwa kami telah salah mengambil posisi igir gunung. Jalan yang kami lalui salah total. Segera kami offset kanan menebas lembah dan sedikit bukit untuk menemukan jalan yang sebenarnya. Akhirnya penantian panjang itu berakhir dengan menemukan dua orang mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, yang satu gundul yang satu gondrong. Dengan meminum tawaran kopi yang mereka berikan, energi kita pun bertambah untuk menusuk hutan lebih lanjut.. Tq brow.

Malam yang panjang itu berakhir dengan tidak terlalu menyenangkan. MEndung gelap menyelimuti fajar kami yang semula kami harapkan cerah dan mendapat hadiah sunrise. Namun, kesenangan tidak berkurang. Puncak telah tiba, ladang eidelweis siap dijadikan tempat tidur, dan mataair tadah di atas Sindoro pun sedang penuh. 16 anak alam telah mencapai puncak dengan riang. Tak sadar waktu turun pun telah tiba..

Saya masih ingat ketika pertengkaran terjadi..

06:45

“Mending tetap turun ke Kledung saja daripada ke Tambi. Karena jarak ke Jogja menjadi makin jauh, sementara teman-teman sudah lelah dihajar alam semalam”, ujarku.

“Kami tahu sendiri Bim, semalam jalan kayak apa.. Keras dan licin akibat hujan.. Udah deh cari jalan yang lain, setidaknya kami tidak tahu kalau jalan yang baru itu rusak!!”,tukas Agus..

“Wis.. voting waee”, tukas teman yang lain.. Voting itu higga kini kuyakini sebagai keputusan akhir yang salah.. Mengapa?

07:00

Mengarah ke Tambi ternyata tidak mudah.. Jalan yang juga rusak pun memaksa kami untuk offset beberapa derajat ke kiri. Dan itulah bencana..menggeser sudut turun di atas memang akan membawa kita mengarah pada titik yang jauh dari titik sasaran turun kita. Dan kembali pada jalur sebenarnya ketika sudah agak dibawah jelas akan memakan energi yang cukup besar juga, apalagi 13 orang bersama yang susah diatur. 3 orang yang lain tetap turun lewat Kledung, sisi yang berseberangan dengan Tambi. Bencana pun berlangsung..

09:00

“Kita sudah hampir gak mungkin balik ke jalan asal. Tebing jurang membatasi kita dari jalan kanan yang harusnya kita lewati.. Voting: lanjut atau balik” tanyaku.

“Kita masih cukup pagi disini, lanjut” tukas Agus

“LANJUUT”

Sekali lagi voting itu juga penambah bencana.. kesalahan terbesar saya adalah: membiarkan mereka bervoting tanpa data.. Faktanya adalah: hanya saya sendirian yang pernah lewat Tambi, dan tidak ada yang pernah lewat jalur itu. Bahkan bukan jalur.. namun kita memang menebas hutan..

11:xx

Hujan tiba-tiba turun.. begitu derasnya.. memaksa kami mencari batu ceruk untuk beberapa orang yang tidak tahan hujan. Sialnya, air hujan kita rasakan cukup sakit mendera tubuh.. HUJAN ES..Hujan es sebesar anak kacang segera memenuhi permukaan mantel kami, mengharuskan kami mencari tempat berteduh, atau setidaknya tiarap dan jongkok.. menghindari rasa sakit, atau setidaknya mengurangi.. Saat itulah saya merasa bahwa inilah yang namanya hilang di Gunung. Kita bisa mati di gunung dengan banyak hal.. Bekal (masih cukup sih), dingin, tekanan udara dan serangan stres.

Benar juga bayangan saya, karena tiba-tiba saya lihat Lani yang sedang berada di ceruk, PINGSAN.. wadauh.. Kita semua akhirnya melepas mantel kita untuk membuat semacam tenda untuk menghangatkan Lani. Bahkan ada yang memiliki usul terburuk sepanjang hidup saya: membangunkan Lani dengan menyentuh kema**annya. wah benar-benar tidak manusiawi.. Berjuangn membangunkan Lani ternyata tidak gampang.. wajah-wajah yang saya kawatirkan akan membenciku, benar-benar terlihat saat itu. Wawan, Yusup telah melihatku dengan sinis.. Biarin aja sih bayanganku.. toh sama-sama mau mati..

Lani telah terbangun dan telah dapat diberikan beberapa penghangat.. Diapun bercerita:”Aku harus ke Bali besok, PKL disana” Grubyak.. kok gak ngomong dari tadi.. “Oke kita jam 5 udah sampe bawah kok”, hiburku. Hiburan itu cukup membangunkan semangat ditengah hujan es lebat dan suara deburan airterjun di sebelah kiri kami. Kami pun memutuskan turun.. apapun yang terjadi..

16:xx

“Pipaaaa, pipaaaa..” teriak seorang teman di depan.. melihat pipa air di dalah hutan.. “Weks alhamdulillah..” ujarku sementara masih membimbing Lan. Lani menggunakan sandal saya yang akhirnya saya cekeran.. Ternyata.. Alangkah kecewanya kteika ternyata pipa itu adalah sebuah batang puhon yang roboh akibat hujan di hutan itu. Kembali penantian panjang yang harus dijemput itu berlangsung. “Turun is Lanjut”. Penantian itu mulai terlihat akan berakhir ketika kami melihat kertas sisa puntung rokok para petani di sela-sela tumbuhan yang ternyata tanaman kobis. langsung kami tak terbendung untuk mencari info lebih lanjut.. dan ternyata sebuah parit kecil beserta jalan setapak kami dapatkan.. Betapa bahagianya kami..

17:0x

Saya melihat setitik cahaya di jauh depan sana.. dan cahaya itu jelas sekali cahaya lampu listrik.. Teman-temanpun menyambut bahagia cahaya itu.. dan kamipun berlari, dan tak sadar bahwa dua diantara kami terpencar ke arah desa lain. Endy dan teguh.. tapi kami hampir tak mempedulikan teman yang tidak banyak keluhan.. kita tetap berjalan ke arah desa yang kuyakini bukan desa Sigedang Tambi.. betapa senang kami dengan cahaya lampu yang tidak sampai-sampai itu.. dan ternyata kami masuk desa pukul 20:15.. 3 jam untuk mengejar lampu itušŸ˜¦

Dan akhirnya sampailah 11 orang ke sebuah desa bernama Kuripan, kecamatan Garung Wonosobo yang sebenarnya bukan daerah pendakian. Ternyata desa itu melenceng lebih dari 5 KM ke arah selatanĀ  dariĀ  titik pendakian tujuan kami. Kami hadir di desa itu dengan kerumunan warga yang penasaran.. siapakah kami. Akhirnya saya pun melaporkan diri ke kepala dusun setempat untuk menyatakan bahwa kami telah tersesat dan sudah kembali ke suatu jalan yang benar. Langkah selanjutnya adalah: mencari charteran Bis ke Magelang untuk teman2 kami yang memang dari magelang.Saat itu 7.500 per orang sampai Magelang. Dan saya? Tinggallah saya di desa Kuripan itu hingga fajar tiba.

Tengah malam.. saya dibangunkan oleh putra pak Kadus menanyakan :”Mas, tadi pendaki berapa orang mas?” Saya jawab:”Enam belas, 3 turun lewat kledung, 2 lewat desa lain, yang disini 11, dan 10 sudah balik magelang”. “Oke silakan tidur lagi mas.. ” Begitu timpalnya..

Adzan subuh bergema di desa Kuripan.. dan saya terbangun untuk sholat berjamaah di masjid. Sampai ruang tamu pak kadus.. saya kaget .. ternyata..ruanganya banjir penuh dengan air yang berasal dari tas saya hahahah.. Belum habis kaget saya.. Putra pak Kadus dan ketua pemuda setempat mendekati saya:”mas, sebaiknya njenengan kalau ingin main ke desa kami, mungkin lain kali aja. Untuk sekarang sebisa mungkin tidak di desa ini dulu”.”Iya mas, saya juga minta maaf karena merepotkan dan saya siap segera pergi dari desa ini”, tukas saya..

“Bukan mas, bukan kami mengusir.. tetapi memang sebaiknya mas Bimo tidak disini sementara waktu untuk menjaga keselamatan njenengan sendiri.. Semalam pemuda2 disini dikejutkan oleh cahaya obor2 dari hutan Kalitengah.. tempat yang njenengan lewati semalam. Kami berpikir tidak mungkin pendaki menggunakan obor dan jumlahnya teramat banyak.. MEnurut tetua sini, mereka adalah penghuni disana yang daerahnya telah sedikit terusik oleh njenengan dan kawan-kawan”

“BLAIK!!!”, Tak ayal lagi, tak ambil pusing, tak ambil pikir lag, langsung ambil tas, pamitan dan .. naik kendaraan terbuka yang membawa sayur ke wonosobo, selanjutnya tanpa saya ke rumah ortu.. bablas Jogja.. Sesampai di Jogja bertemulah saya dengan Endy teman saya.. dia menginap di desa mBanaran sebelahnya Kuripan..

From → Tak Berkategori

One Comment
  1. nice blog..visit our blog please..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: