Skip to content

Warnet : Maximum Income Value vs Unlimit Risk

April 27, 2008

Beberapa hari ini teringat lagi kenangan-kenangan di almarhum GSIC yang dulu sempat menjadi tempat romatis untuk berdownload malam hari. Kini warnet itu telah tiada, awal Februari lalu, dengan berbagai hal yang menyebabkan bangkrutnya bekas warnet terbesar se Yogya itu. Tempatnya ada di UPT Perpustakaan UGM lantai 1. Banyak faktor penyebab ditutupnya warnet itu (yang katanya memang akan dipakai sendiri oleh perpustakaan). Namun pasti ada faktor pertimbangan untung-rugi dalam proses tersebut. Misal: masalah share bandwidth dengan “induk” perusahaan, perusahaan rekanan , masalah kontrol kualitas, masalah koordinasi yang tidak baik seperti adanya hotspot liar (liar itu tanpa ijin) yang sengaja di share, adanya warnet lagi di atas yang gratis, yang dibiayai dan di sponsori langsung oleh Sampoerna (aneh.. sekelas UGM yang katanya anti iklan rokok, justru mengambil keuntungan dari sana – yang penting duit),dan beberapa hal lagi. Banyak faktornya.

Sebelumnya kita sempat berhitung dalam proses operasional warnet tersebut. Bahwa jika meja / bilik komputer itu terisi secara penuh tiap hari pun dengan tanpa ada masalah – masalah penyebab yang lain tersebut, sebenarnya bisa untung. Namun sepertinya untuk kelas warnet, perlu dipertimbangkan masalah-masalah berikut:

  1. Warnet, dalam menjual koneksi internet dan service paket warnet memiliki maximum value income. Artinya, jika warnet tersebut hanya berjualan service internet dan bandwidth saja, hal itu akan mentok pada nilai tertinggi. Hal ini karena user berinternet berdasarkan hitungan waktu. Sedangkan waktu dalam satu hari satu malam hanya 24 jam. Itu pun jika harus terisi penuh, maka effort lain akan muncul dalam bentuk pemakaian listrik, masalah-masalah service, bandwidth yang akan selalu mentok, hardware yang akan selalu terpakai lebih lama dan meiliki umur yang terbatas
  2. Warnet memiliki nilai resiko hardware yang tinggi. Hardware untuk warnet tidak begitu murah. Memori komputer, Hardisk, Prosesor dan lain sebagainya adalah benda yang mesti selalu memiliki umur.
  3. Resiko ancaman-ancaman berlabel peraturan. Seperti resiko ancaman dituding masalah HAKI, ancaman dengan UU ITE yang akhirnya di Jogja pada umumnya melakukan suap kepada pihak petugas pengancam. Tidak siapnya user dengan sistem operasi dan software berbasis free opensource juga menjadi faktor penting masalah ini
  4. Resiko keamanan. Premanisme yang meminta jatah, user nakal yang seperti maling dll, ada di Indonesia ini. belum lagi suatu peristiwa yang biasa terjadi seperti warnet menjadi tempat sex, ataupun menjadi ajang kejahatan sex. Kaum-kaum pencari cinta illegal akan memanfaatkan warnet untuk melakukan interaksi dengan kaum sasarannya di internet. Tidak jarang mereka melakukan kencan di warnet. Di GSIC dulu hal tersebut kerap terjadi. seorang mahasiswi yang menjual diri, atau seorang mahasiswa yang sempat membekap mulut seorang user mahasiswi (dengan obat bius) untuk tujuan nafsunya.
  5. Persaingan warnet. PErsaingan dengan kafe-kafe hotspot. PErsaingan harga akan menurunkan harga paket warnet. Dan jelas dengan seperti ini maximum income value akan turun.

Sebenarnya masih banyak lagi ancaman-ancaman insidentil seperti kejahatan di internet, hacking, carding dan lain sebagainya, namun sepertinya point-point besarnya telah ada dalam catatan di atas. Lantas solusinya?

Sebagai pelajaran saya dan pembaca lainnya, GSIC di masa hidupnya sebenarnya juga tidak begitu buruk prestasinya. Hanya sayangnya, manajemen, kontrol dan kepedulian kalangan-kalangan yang berwenang sangat kurang. Komputer yang non update, masalah sistem operasi yang tak pernah ganti, juga andil dalam ha ini. Namun kadang ada beberapa point yang bisa dijadikan pelajaran. Beberapa karyawan sempat memiliki pemasukan yang bagus karena melalui warnet tersebut. Dengan bermodal bandwidth yang nganggur di malam hari, dengan bermodal forum-forum seperti kaskus, dia berhasil mendapatkan pelanggan untuk usahanya di bidang downdload service. Kadang tidak tanggung-tanggung. Harga 50 ribu untuk 1 CD sudah hal yang baisa. Dia telah dapat menjadikan bahwa warnet adalah toko yang tidak harus menjual satu jenis produk saja. Namun dia bisa memanfaatkan untuk keperluan lain seperti mencari klien untuk webdesainnya, resseling hosting, download service, pelatihan dan berbagai usaha lain.

Mungkin ini hanya uneg-uneg saya sebagai orang yang pernah berada di warnet, semoga bisa menjadi masukan buat teman-teman yang memiliki usaha dalam menjual bandwidth yang besarnya terbatas, resiko yang cukup lumayan besar, namun memiliki cita-cita untuk membongkar tantangan tersebut, terutama dalam membongkar masalah maximum income value tersebut..

From → Tak Berkategori

2 Komentar
  1. oOo … dah tutup to

  2. hooh pak dhe.. menurutmu piye😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: