Skip to content

Ukhti, akhi mau cium bibir ukhti…

April 8, 2009

Tulisan ini tidak berarti apa-apa. Hanya sedikit uneg-uneg tentang sebuah SIMBOLISME.

Kira-kira beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti sebuah Jamaah yang gerakannya cukup disegani. Dalam lingkungan berjamaah tersebut, memang kami dibiasakan, dibudayakan dengan hal-hal yang memperkuat semangat, gerakan dan solidaritas kami di dalam.
Mengganti nama dengan nama berbahasa Arab, berbaju gamis, memelihara panjang-panjang jenggot, berbahasa dengan bahasa Arab yang sebenarnya saya tidak tahu artinya, telah kami jalani.
Kehidupan bersosialisasi kami mirip sekali dengan gambaran-gambaran sedemikian. Semangat-semangat yang tertanam dalam lingkungan yang dibudidayakan tersebut memang luar biasa.
Memang peri kehidupan kami akhirnya menuai beberapa suara yang akhirnya kami tidak lagi memperhatikan. Suara-suara bahwa kami menjadi orang aneh dan lain sebagainya justru membuat kami bangga dengan apa yang menjadi atribut kami. Kami bangga menjadi minoritas!!
Hingga pada akhirnya orang tua kami pun merasakan keanehan dan mulai menanyakan dengan artian protes. Beberapa saudara juga memandang demikian. Kami adalah PAKU yang maik dipukul akan makin dalam. Kami senang dengan itu..

Ada sebuah peristiwa yang membuat saya berpikir ulang tentang atribut atribut saya. Saya ternyata tak lebih dari seorang aktifis parpol yang tidak melihat kebenaran dari luar, dari orang yang tidak se-atribut.. Demikian biasanya budaya kami dahulu. Saya pun tetap melakukan kejahatan, saya menggunakan kartu telepon ilegal, dan merasa bahwa dirilah yang lebih benar, selama menjaga sikap. Sayang sekali. Saya tak lebih berguna di masyarakat daripada seorang preman yang bertato tapi rajin membantu tetangga, tidak jaim terhadap tetangga.

Demikianlah sekelumit tentang diri saya. Selanjutnya saya sendiri menemukan beberapa hal yang biasanya terbudaya di kalangan orang orang seperti itu.. Ternyata tidak saya sendirian yang melakukan itu.

Di satu hari di tanggal 31 Desember 2003 saya mendapatkan kunjungan seorang teman yang telah bekerja di Surabaya. Saya mengenal dia sebagai orang yang taat beragama, mengikuti manhaj orang orang Salaf yang anti terhadap bid-ah apalagi haram. Menengok wanita pun tidak, televisi juga tidak. Berikut sekilas pembicaraan jam 3 sore.

A: Mas, kamu bisa nemenin saya ndak nanti malam?
B: Kemana?

A: Tahun Baruan
B: Lho katanya kayak gitu bid’ah?

A: Iya sih cuma ketepatan momen aja, aku mau ada acara aja nanti malam
B: Lha di mana

A: Suatu tempat deh, jangan lupa bawa gitar, aku kangen dengan lagu-lagumu
B: Wehehe, saya nggarap skripsi je dul..

A: Ndak papa laah.. sekali sekali
B: Ndak ah, saya ndak bisa tenang

A: Wah yo wis kalau gitu kamu membiarkanku berbuat dosa
B: Lha? kok dosa ki piye

A: Kamu tau apa yang kubawa ini (sambil menunjukkan gantungan kunci)
B: Gantungan kunci

A: Gantungan kunci apa?
B: Hotel????

A: Iya aku sama cewekku mau nginep di hotel

BRAK

Besoknya,

A: Wah mas, masih terasa bau lipstiknya di bibirku

BRAK

Demikian sekelumit cerita. Saya pun sempat banyak melihat dengan mata kepala sendiri seorang ‘akhwat’ dan ‘ikhwan’ (begitu kaum mereka mengatakan) melakukan ciuman bibir di suatu ruangan, berduaan di depan mesjid kampus, atau bahkan mengaku pada saya bahwa dia telah melakukan ‘cupang’ payudara dengan teman laki-lakinya.
Dahulu saya sangat terkejut dengan kenyataan-kenyataan seperti itu. Namun sekarang hanyalah saya ambil hikmah.. Nilai beragama seseorang pada akhirnya tidak ditentukan bagaimana bentuk jubah, bagaimana panjang jenggotnya.. Namun sejauh mana dia mengamalkan ajaran agamanya dengan baik.
Sangat percuma rasanya ketika kita mengatakan : ‘WAH DIA KAFIR’, ‘DIA ITU SYIAH’, ‘DIA ITU SESAT’ kepada seseorang Islam yang tetap memegang syahadat, dan sholat, yang dikatakan seperti itu hanya karena dia berdekatan dengan seseorang beragama lain, namun dia sendiri tidak mengejawantahkan ajaran agama dengan benar. Jangan-jangan nilai surgawinya kalah dengan seseorang pelacur yang rela turun sumur untuk memberi minum seekor anjing..

Ata’murunannaasa bil birri watansauna anfusakum.. wa antum tatlunal kitaaba.. afalaa ta’qiluuun

Kurang lebihnya mohon maaf…

Semoga tulisan ini lebih mendekatkan kita pada Alloh SWT, dengan tidak hanya sebatas atribut-atribut pakaian dan adat yang terlihat..

From → Tak Berkategori

15 Komentar
  1. M dulunya juga kaget… tp ternyata.. emang gitu kenyataannya.. byk dari mereka yg istiqomah.. tp banyak juga yang ‘mreman’

  2. Ya semoga kita selalu diselamatkan oleh Alloh.. Hidayah hanya miliknya

  3. Pertama Kali, saya ucapkan Selamat Mencontreng atau tidak mencontreng.Saya mencontreng Lho….He..he…he.
    Kedua,Selamat telah terlepas dari budaya simbolis.
    Ketiga, mari kita sama sama berdoa mudah-mudahan kita senantiasa dilindungi Allah SWT dari perbuatan dosa dan tidak terjebak dalam satu bentuk ekstremitas.Baik “Ekstrem Benar” maupun “Ekstrem Salah”. Amin.

  4. ini kisah nyata to pak Bimo? wah ngeri juga ya..
    Semoga kita selalu dalam lindunganNya..

  5. @The Tukang: Ayo dandan dandan omah😀

  6. @Dimas: Iya .. yang penting memohon hidayah dan seperti mas The Tukang (G*n) hindarkan ekstrem2. Toh di dalam ajaran agama juga telah ada:

    Janganla mencintai berlebihan, jangan jangan apa yang paling kau cintai hari ini, besok menjadi yang paling kau benci, dan hati hati dengan membenci, karena siapa tahu apa yang kau benci sekarang, menjadi paling kau cintai esok hari.

    Ada hadits juga yang mengatakan:”Hatu hati dengan mencela, karena kelak apa yang kau cela, bisa jadi akan kau lakukan menjelang mati mu”

    Bismillah.. semoga kita dijaga, dilindungi

  7. Yg ekstrim2 itu dimana-mana juga mengerikan😀

  8. tapi saya ekstrim kalau melawan FaceBook dan Friendster

  9. bapak beratribut itu gmanapun juga manusia kalie..ga semuanya begitu, byk yang dah selalu menyesuaikan antara atribut dan attitude nya kok, mas…
    hari gini kita lbh harus mentingin belajar hakikat laa..

  10. @deasy: memang benar mbak.. akhirnya semua kembali ke niat.. semuanya akan dinilai dari niatnya.. Mungkin coba kita baca lagi kisah di sini

    https://bimosaurus.wordpress.com/2009/03/06/penghuni-surga/

  11. yups, tulisan ini tidak lantas jadi alasan kita punya kesempatan ber-suuzon sama satu atribut, apalagi yg ekstrim2.
    Yang jelas, jika suatu nasihat baik datang kepada kita misalnya dr golongan maling sekalipun, ambillah. Sebaliknya jika sebuah contoh jelek datang dari seorang ustad, kita juga bisa lebih bijak menyikapinya.
    Semoga Allah selalu menunjuki jalan kebenaran bagi kita semua. Amiin.🙂

  12. imah permalink

    hidayah itu Alloh yg mberikan, menjaganya adlh sbuah pilihan.jika berani melangkah dan menetapkan diri di jln dakwah maka konsekuensiny adalah istiqomah.Na’udzubillah,,,smga Alloh mhndarkn kta smua dr yg sprti ini.jgn jdikan ini sbgai justifikasi.jika ada ikhwan akhwat yg slah,lihatlah ada lbih bnyk yg benar.

  13. joko permalink

    wah, gue skarang alhamdulilah, masih nongkrong ama tuh jama’ah yang kang bimo maksud. tapi syukur masih istiqomah dlam lindungannya, emang tuh jama’ah bukanlah jama’ah malaikat, jadi emang ada aja yang keblinger juga, tapi gak bisa gue justifikasi. gue masih bisa tampil funky, tapi bro en sist gue di kmunitas masih menjadi suport en koridor bagi gue untuk tetep di jalan Gusti Allah…

  14. cahyadiheru permalink

    wah…cerita yang aneh…mudah2an bukan fitnah

  15. mas Bro permalink

    nemu tulisan ini….
    hahaaha,,,baik buruk itu ada…
    namun jangan sampai gara2 ini kita tidak mau untuk menuntut ilmu, yang salah itu bukan atributnya, tapi orang yang masuk ke dalam tapi tak mengalamkan…
    ah yang terpenting jangan keluar dari alqur’an dan sunnah…lalu do’akan yang belum istiqomah dan kitapun semoga bisa istiqomah…
    semoga Allah memahamkan agama yang benar dan menjaga hati kita untuk selalu berjunag di jalan Allah, baik ada atribut maupun tidak…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: