Skip to content

Control Your Destiny or Someone Else Will: The GE Way

Mei 11, 2009

Sebuah tulisan dari harian KOMPAS yang dituliskan ulang dalam blog mas Adi http ://hampala.multiply.com/journal/item/2351/Control_Your_Destiny_or_Someone_Else_Will_The_GE_Way..

Control Your Destiny or Someone Else Will: The GE Way
Kompas.com, Minggu, 28 September 2008 | 00:13 WIB

GENERAL Electric (GE) adalah salah satu perusahaan yang dikagumi banyak
orang, termasuk saya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari perusahaan ini.
Berbagai buku tentang GE juga telah ditulis, termasuk karya Noel Tichy dan
Stratford Sherman yang menginspirasi judul tulisan ini, Control Your Destiny
or Someone Else Will.

Satu hal yang menarik diamati adalah perubahan yang terjadi di GE sejak era
Jack Welch sampai Jeff Immelt sekarang. Begitu diangkat sebagai CEO dan
Chairman GE pada tahun 1981, Welch bergerak cepat. Sepanjang dasawarsa
1980-an, Welch bekerja keras merampingkan GE dan membuatnya jadi lebih
kompetitif. Welch dikenal sangat terobsesi dengan shareholder value.
Pidatonya yang berjudul “Growing Fast in a Slow-Growth Economy” menunjukkan
dengan jelas obsesi Welch ini.

Welch mendorong para manajernya untuk bekerja lebih produktif. Ia juga
memangkas birokrasi untuk meningkatkan efisiensi. Welch juga tidak
segan-segan memecat karyawan yang dianggap tidak memiliki kinerja yang
bagus.

Hasilnya? Secara finansial GE sukses besar di bawah kepemimpinan Welch. Pada
tahun 1980, sebelum era Welch, revenue GE sekitar 26,8 milyar dollar AS.
Pada tahun 2000, satu tahun sebelum Welch pensiun, revenue-nya meningkat
pesat menjadi 130 milyar dollar AS!

Nah, setelah era Welch berakhir pada tahun 2001, giliran Jeff Immelt yang
memimpin GE. Sama seperti Welch, Immelt pun langsung melakukan transformasi.
Immelt melihat bahwa GE cenderung sudah tidak inovatif. Ia menilai bahwa
obsesi GE terhadap bottom-line results dan kecenderungan untuk memecat orang
yang tidak mampu memenuhinya—warisan dari Welch—akan membuat para eksekutif
GE tidak berani mengambil risiko.

Maka, Immelt ingin agar GE lebih berani mengambil risiko, lebih
memperhatikan soal pemasaran, dan yang lebih penting, lebih berani melakukan
inovasi. Beda dengan era Welch sebelumnya yang menekankan soal efisiensi,
pemotongan biaya, dan ketrampilan melakukan deal-deal bisnis. Hal ini mau
tidak mau memang harus dilakukan. Lanskap bisnis pada era Welch berbeda
dengan era Immelt.

Pada era Welch, ekonomi Amerika tumbuh pesat pada tahun 1990-an saat
dipimpin Bill Clinton. Sementara Immelt harus menghadapi masa-masa pasca
peristiwa serangan teroris 9/11, ekonomi domestik Amerika yang
pertumbuhannya lebih lambat di bawah kepemimpinan George W. Bush, para
investor yang lebih demanding karena baru saja mengalami dotcom bomb, dan
juga pesaing-pesaing global yang lebih banyak.

Bisa kita lihat bagaimana perusahaan sekelas GE pun terus berubah sesuai
dengan perubahan lanskap bisnis yang dihadapi. Kebetulan MarkPlus Institute
of Marketing (MIM) sendiri tahun 2007 lalu pernah diminta untuk memberikan
pelatihan bagi para eksekutif GE Asia di tiga kota sekaligus: Singapura,
Shanghai, dan Sydney. Jadi, sedikit banyak saya juga bisa belajar dari
orang-orang GE sendiri.

Saya sendiri pernah menginap semalam di Kantor Pusat GE di Fairfield
Connecticut, Amerika. Saya juga pernah dua kali diundang ke Crotonville,
corporate university-nya GE. Kampus yang didirikan pada tahun 1956 ini
sekarang namanya John F. Welch Leadership Development Center, untuk
menghormati Jack Welch yang sudah pensiun.

Di Crotonville inilah para karyawan GE, mulai dari karyawan baru sampai ke
jajaran top management, digembleng dengan berbagai program pendidikan.
Selain Six Sigma, program penting lainnya adalah Change Acceleration Process
(CAP). CAP yang merupakan inisiatif Jack Welch ini bertujuan untuk
menyiapkan para manajer GE agar mampu mengelola proses perubahan secara
lebih efektif.

Welch memang telah membangun fondasi yang kuat di Crotonville ini.
Perusahaan yang kuat itu bukan perusahaan yang ukurannya besar semata, namun
perusahaan yang orang-orangnya siap berubah setiap saat.

Untuk menghadapi perubahan eksternal, sebuah perusahaan sebelumnya harus
bisa melakukan perubahan internal. Perubahan internal ini ada tiga jenis,
yaitu Political Change, Technical Change, dan Cultural Change.

Political Change adalah perubahan di tingkat manajemen puncak. Para
pengambil keputusan harus benar-benar mendukung program perubahan internal
yang sedang terjadi. Technical Change merupakan perubahan yang menyangkut
aspek-aspek seperti strategi, sistem, struktur, dan sebagainya. Technical
Change ini biasanya disusun oleh sekelompok kecil orang yang memang ahli
dalam bidangnya.

Sementara itu, Cultural Change adalah perubahan budaya korporat yang
menyangkut seluruh karyawan tanpa kecuali. Nilai-nilai (values) dan perilaku
(behaviour) baru musti dijalankan dengan konsisten.

GE telah melakukan ketiga perubahan internal tersebut dan hasilnya bisa
sama-sama kita lihat. Jadi, hanya perusahaan yang siap berubahlah yang akan
mampu bertahan di lanskap New Wave ini.

—Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas–

Hermawan Kartajaya

From → Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: