Skip to content

Juni dan Menyendiri!!!

Juni 22, 2010

Adalah masa laluku..

Adalah pelarian jiwaku..

Diri sendiri adalah sosok satu-satunya makhluk terpercaya..

Tidak siapapun!!

Karena hanya diri ini yang tidak berbohong pada diri ini..

Hanya diri ini yang muncul ketika kubutuhkan pembelaan..

Hanya diri ini yang hadir ketika jiwaku berteriak..

Tidak siapapun!!

Lantas, terbayang lagi sebuah telaga tempat persinggahan pelepas payah dan dahaga… dan terbayang lagi tingginya gunung pelepas penat benak dan teriakan penjuru jiwa..

Aku kembali menyendiri!!

Hanya pada Tuhan jiwa ini berasal, hanya padaNya jiwa ini kembali, dan hanya Dia teman sejati…


Bulan Juni Tahun 1999

Mereka kembali ke alam, ke gunung yang pernah menyesatkan mereka. Dalam terang bulan purnama, dalam dingin dan kelam malam, mereka siap berjalan. Menembus pekat malam, menyibak kabut. Suatu tempat yang indah, bernama hutan Sindoro.

Bulan Juni Tahun 2000

Lagu Romance permainan piano dari Richard Claderman dari Chopin masih mengalun. Sekuntum eidelweis curian masih tersimpan rapi dalam rantang makanan sisa pendakian hari kemarin. Sang pendengar masih merenungi pencarian jatidiri. Suasana cerah dengan suara parit kota pegunungan menjepit si pendengar dalam syahdu. Renungan masih bercerita mengejar lamunan. Suatu khayal yang sang perenung tak kan sadar, dia akan benar-benar menjadi tokoh cerita alam nyatanya. Harmoni berganti, sang penyendiri terjaga dari pertapaannya, beranjak menemui matahari.

Bulan Juni Tahun 2001

Sang perenung di tahun lalu, kembali menjadi pendaki, menerobos hutan, menjelajah hutan, melintasi awan, menyibak kabut. Secuil sakit hati terobati, setumpuk dendam telah tereksekusi, sekuntum kesedihan telah terkonsekuensi, dengan senyum kemenangan, kini siap menjemput harapan-harapan pasti. PEndakian itulah perayaannya. Sang pendaki lupa dengan renungannya, setahun lalu.

Bulan Juni Tahun 2002

Kepada alam bebas, pendaki kembali merindui. Sebuah tempat indah yang pemukim kota akan berkata, itulah alam ganas. Sungguh aneh pemukim kota bicara. Tempat damai yang kata pemukim kota itu “gundukan tanah berapi” telah siap menjamu. Sebuah tempat megah dalam ketinggian nirwana, membawahi awan, sejajari langit biru. Tempat sederhana dan tepat untuk mengintip warna kota di malam hari. Berteman lagu Balada yang pemukim kota katakan slowrock, pendaki lupakan akan alunan romance dua tahun lalu, menyanjung megabukit seorang diri. Puncak menyambut megah, dengan semi dan bermandi kilau mentari pagi, sang pemuncak pun tertidur di tanah tinggi.

Bulan Juni Tahun 2003

Para pemuncak siap dengan daya jelajah dan daya tersimpan. KEmbali pada renungan dan pelampiasan. Sebuah ritual pengaduan kepada alam, telah siap dilakukan. BErmain ganda berujung kesatuan jiwa, para penjelajah itu kembali tamui sang mulut api yang bermukim di langit. Langit akan kelabu jika para tamu datang dengan sayu. Para penerobos malam pulang dalam hamparan langit biru.🙂

Bulan Juni Tahun 2004

Lagu Minueto – Bocherini mendayu syahdu.. membawa sang perindu malam pada satu tekad dan keputusan, yang pembenci malam mengatakan itu nekad. Suatu tekad untuk kembali bermain bersama mulut api, langit biru, memanjat sekian kilo meter tumpukan batu tak bertanah. Dalam kesendirian dia temukan jati diri, dalam kesendirian dia temukan teman, dalam keramaian justru dia temukan kesepian. Tak ada kata nekad jika semua telah jelas terhitungkan. Dilepas para penidur malam dengan serapah:”nekad”, sang perindu kembali memanjati, dinding mulut api nan tak pernah jahat, seorang diri. Langit akan kelabu jika sang tamu datang dengan sayu. Sang penerobos malam selalu akan pulang dalam hamparan langit biru.🙂

Bulan Juni Tahun 2005

Mulut api kembali menerima tamu, insane yang memerlukan ritual peleburan ketakaburan dan bangga diri. Lepas tengah malam, lepaslah sang tamu dari genggaman busur lembah, satu tujuan pasti, kaldera.. Dan Lagu Balada pengantar panjat telah usai pasca tengah malam tadi. Kini tinggal sisa dini hari yang menghembusi angin pagi, ke puncak mulut api, sebelum matahari pun datang bertamu dengan pakaian kilaunya..

Bulan Juni Tahun 2006

Sang Kembara tak lagi berkunjung.. Sang kembara dalam tahap ikatan janjinya untuk bertunangan, pernikahan telah menjelang, akhir tahun ini.. Konon mulut api belum siap mahfum keadaan sahabatnya, bulan lalu alampun risau dan guncangkan diri, kini moncong api pun benar-benar letuskan apa yang tersimpan dari mulutnya, luapkan batuan, alirkan airmata api. Si kelana pun yakin.. Bukan karna diri sang kelana mulut api bermurka diri

Bulan Juni Tahun 2007

Lagu Romance masih mengalun. Kembali sang kelana pada perenungan jati diri. Dari negeri Nanggro sang Kelana kemarin bertamu. Dan kini sang kelana telah jauh dari hutan, mulut api dan julukan perindu malam, tak juga pekemah. Kini sang kelana telah bermukim. Sang kembara kini slalu tingalkan malam. Tak pernah tengah malam terlewat berjaga. Entah, kini mulut api akan katakan, sang kelana adalah pembenci malam, entah hutan kini akan berkata, sang kembara adalah pemukim kota, dan entah Juni tahun depan, masihkah sang perenung yang kini penjelajah dunia maya itu akan kembali, bertamu mulut api, bermandi kilau mentari dan panjati indah batu-batu Merapi….. Namun satu titik pasti, sang kembara lebih banyak lagi jelajahi, mencermati kehidupan dan ribuan berkah dari sang Ilahi.

Dalam lepas malam, tenggelam-rasa berada

Dimana kembali terkenang sang Kelana
ke masa tatkala raga dan sukmanya
tertumpu utas-utas tali jiwa

From → Tak Berkategori

5 Komentar
  1. GOOD POST!!

  2. aku suka puisinya

  3. Juni 2010 aku ulang tahun lagi, tambah umur lagi, masa hidupku tambah kurang lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: