Skip to content

Tentang Sebuah Kebenaran

Maret 13, 2012

Kebenaran, atau bisa dikatakan sesuatu yang sifatnya ‘benar’ dapat dikatakan ada pada dua sisi. Kebenaran dapat bersifat absolut atau mutlak, dan kebenaran bisa juga bersifat relatif. Sebuah kebenaran absolut hanyalah milik pencipta semesta ini. Sedangan kebenaran relatif, sangat tergantung dari siapa yang ada di lingkungan kebenaran itu.

Analogi dengan teori Tata Surya.

Sistem tata surya mengenal beberapa teori, antara lain adalah : geosentris, heliosentris dan beberapa teori lain. Sementara penelitian menyebutkan bahwa teori yang ada adalah gabungan antara itu. Geosentris adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa benda langit di sekitar bumi berputar mengelilingi bumi, bumi sebagai titik pusatnya. Sementara Heliosentris menyatakan bahwa bumi dan seluruh planet berputar mengelilingi matahari, matahari sebagai pusatnya. Namun penelitian lain menyebutkan, seluruh alam semesta mengelilingi matahari, dan matahari mengelilingi bumi.

Paham Geosentris ini, identik sekali dengan manusia dengan paham Egosentrisme, dimana menjadikan dirinya adalah pusat perhatian, pusat acuan kebenaran. Apapun yang terjadi, kebenaran ada di sisi dia sendiri. Orang dengan paham seperti ini akan sangat tidak baik ketika dia ada di lingkungan yang memiliki peran besar untuk masyarakat, seperti pemimpin, pemimpin agama dan lain sebagainya.

Paham Heliosentris ini, bisa jadi teridentikkan dengan manusia dengan paham yang taat pada aturan. Dimana seluruh tindakan dan tindakan pada masyarakatnya diacukan pada aturan yang ada. Disini, tergantung pada acuan yang dibawanya. Jika dia berada di kantor, dan acuan kantor yang dipegang, maka sebenarnya acuan kantor tersebut masih bisa berisi kepentingan para pembuat keputusan. Negara pun demikian juga.

Saya tidak bisa menganalogikan paham pendengar hati nurani dengan teori tata surya. Hati nurani adalah sebuah suara hati yang bersih yang dia sebearnya berprotes ketika kita menjadi ‘kebenaran’ bagi sebuah kesalahan. Hati nurani ini bisa jadi tidak terdengar oleh orang-orang yang telah menjadi ‘nilai kebenaran’ bagi sebuah kesalahan. Apakah kebenaran bagi sebuah kesalahan itu? Yaitu dimana sebuah kesalahan dibenarkan menjadi sebuah kebenaran dan kadang justru menjadi acuan bagi orang lain dalam bertindak.

Rupanya media internet, social network, dan segala macam media canggih di masa kini dimana semua orang dapat berekspos kata seperti saya  ini, sangat menyuburkan paham-paham Egosentris. Misal dengan curhat dimana sebenarnya sebuah kesalahan diri, karena malu, dia telikung bahasa menjadikan dirinya benar, kadang dibumbui dengan beberapa proteksi yang menghindari orang lain di sisi ‘benar’ membacanya.

Cobalah menengok social network kita sendiri. Atau bolehlah orang lain. Adakah kita pernah menyalahkan diri sendiri disana? Segala sumpah serapah biasanya ditunjukkan bahwa diri kita adalah benar.

 

Tulisan ini adalah keinginan saya untuk mencoba introspeksi diri. Bahkan segala tulisan di atas bisa jadi muncul karena pengalaman saya sendiri. Barangkali bisa berguna dan menjadi renungan bersama bahwa diri ini tidak hidup sendiri, gesekan selalu akan terjadi dan Tuhan akan melihat bagaimana kita mengelola gesekan dengan pihak lain. Semoga kita bisa berheliosentris dengan pusat acuan aturan kita adalah hatinurani sebagai wakil Tuhan Yang Maha Kuasa di dalam diri kita ini. Semoga Tuhan tersenyum melihat bagaimana kita mengelola diri🙂

 

bms

From → Tak Berkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: