Skip to content

Blog, Social Networking, Internet Media dan Reporter Dadakan

Maret 17, 2012

Era teknologi maju sekarang, tidak hanya memungkinkan orang melakukan akses ke dunia maya. Namun juga kita juga bisa melakukan ekspos isi kepala ke dalam sebuah tulisan yang memungkinkan dibaca oleh seluruh manusia di seluruh penjuru dunia. Layanan-layanan mulai dari layanan email, chatting, blogging, dan social networking tumbuh subur dengan makin pesatnya pertumbuhan industri telekomunikasi di tingkat hardware. Semua orang dapat melakukan akses ke situs social networking kesayangannya lewat ponsel, komputer, iPad dan apapun namanya gadget yang ada.

Sebagai pembaca, kadang kita terpaksa harus benar-benar selektif dalam membaca sebuah informasi yang muncul di salah satu media internet. Jika di masa lalu, skripsi atau karya tulis dapat dengan mudah mengambil referensi dari internet, sekarang tidak demikian. Selektifitas harus benar-benar dilakukan mengingat tidak semua yang ada di internet adalah benar. Sering kali kita mendapatkan sumber valid dari blog atau facebook seseorang. Namun tak jarang juga sumber yang kita ambil ternyata terpengaruh oleh emosi dan kepentingan si penulis. Untuk ini maka harus benar-benar selektif sebagai seorang pembaca.

Bagaimana jika kita berada dalam sisi penulis, kita pun sebenarnya bebas menuliskan apapun. Namun etika dalam menulis tetap harus ada. Jngan sampai apa yang kita tulis justru merupakan informasi yang tidak benar atau minimal menyalahi etika. Kadang benar saja tidak cukup, namun harus ada etika-etika lain seperti kesopanan, faktor sara, dan lain sebagainya.

FAKTA vs OPINI

Seringkali juga, kita mendapatkan sumber dari internet dan kita mempertanyakan apakah ini benar? Maka kita juga pada posisi dibalik sebagai penulis, maka kita harus benar-benar menjaga validitas tulisan kita. Apakah syaratnya? Sebenarnya tidak sulit, salah satu kuncinya adalah : Utamakan Fakta daripada Opini.

Fakta merupakan suatu informasi valid yang benar-benar ada. Kadang fakta ini bisa berasal dari berita lain pembawa fakta, atau bisa juga kita sebagai saksi, atau sebuah gambar atau rekaman atau catatan sebagai bukti. Itulah fakta. Sedangkan opini adalah wujud dari pengembangan fakta menurut versi kepala masing-masing. Tingkat validitasnya bisa beranekaragam tergantung pada si pemilik opini. Jika si pemilik opini adalah benar-benar seorang analis maka beruntunglah si penerima berita. Namun di masa kini di masa anak SD pun bisa menulis tentang keburukan temannya di facebook, tidak mudah untuk menelaah sebuah opini, kadang opini ini justru akan membelokkan sebuah kebenaran dengan rancunya opini menjadi fakta bagi orang lain

From → Tak Berkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: