Skip to content

Rokok, antara SARA, Gangguan, dan Agama Baru

Desember 3, 2012
Setelah selama bertahun-tahun saya selalu berdebat tentang rokok terhadap para perokok, dan hanya menghasilkan debat yang tiada berguna, akhirnya saya memutuskan mengambil kesimpulan, bahwa tentang rokok, membicarakannya adalah hal yang SARA. Ya, rokok adalah benda yang akan berpotensi mengganggu orang yang tidak mengkonsumsinya, tapi berpotensi mengganggu hati para pemadatnya ketika diperingatkan. Rokok menjadi semacam golongan yang jika diusik, maka golongan tersebut akan defensif, marah, mengambil argumen yang tidak substansi yang tidak ada kaitannya untuk membela diri.

Namun malam ini sepertinya saya pengin mengungkitnya kembali tentang hal itu. Pemicunya adalah : Sebuah bus AC jurusan Kampung Rambutan – Cianjur yang menyediakan smoking area, namun entah kenapa, zat residu rokok tersebut justru masuk ke ruang non smoking area. Hebatnya lagi, seluruh sopir bis yang berlogo MARITA itu, baik yang papasan di jalan maupun yang sedang nyetir, merokok dalam ruangan ber AC. Saya tidak tahu apakah mereka memiliki SOP terhadap perusahaan otobisnya atau tidak. Jika memiliki SOP dan dia diijinkan merokok, jelas perusahaan tersebut sangat tidak menghargai GOLONGAN orang tidak merokok. Namun jika perusahaan tersebut tidak mengijinkan merokok, maka sopir tersebut telah berkhianat terhadap pekerjaannya.

Rokok, adalah benda yang bagi saya, hanya akan berfungsi beberapa hal:

  1. Menjatuhkan lintah dari kulit
  2. Menghilangkan bau apek ruangan, tentu tidak dengan dibakar

Diluar itu, rokok adalah benda yang mengganggu bagi orang tidak merokok. Tingkat gangguannya bisa di sembarang tempat, mulai dari ruang publik hingga ruangan ber AC sekalipun seperti bandara, kereta api. Jaman saya bekerja di tempat kerja lama, perokok juga amat susah diperingatkan agar tidak merokok dalam ruangan ber AC. Diperingatkanpun, hanya akan menjadi pertengkaran yang tidak jelas. Padahal tingkat gangguan rokok, sangat merepotkan, mulai dari ruangan yang justru jadi bau apek, resiko penyakit, baju bau, hingga tingkat membahayakan di jalan raya. Coba lihat berapa banyak pengemudi yang membuang abu rokok ke jalan dalam kondisi nyala?

Saya paham, tulisan kali ini hanya juga akan menjadi semacam uneg tak tersampaikan, seperti tulisan-tulisan teman-teman yang lain. Karena bagaimanapun merokok adalah merasa mayoritas dalam kehidupan di Indonesia. Dilihat dari cara merokokpun saya yakin bahwa kata mutiara :”Bangsa berbudaya luhur” itu sama sekali sebenarnya bohong dan hanya membela diri kebobrokan budaya bangsa ini sejak lama. Saya amat jarang melihat orang asing merokok di tempat terbuka, atau sambil jalan atau di tempat publik. Tapi di Indonesia, hampir setiap sudut, orang yang tidak pernah percaya diri akan selalu menggunakan rokok sebagai temannya.

Para perokok, bagaimanapun tidak akan dapat diberitahu. Mereka akan selalu mengelak dengan alasan : pendapatan negara, pak Karno dulu merokok, pak Dirman dulu merokok, pak Harto juga merokok, menolong petani tembakau, pak Kyai juga merokok dan segudang alasan lain. Ya pantaslah negara ini tidak pernah beres karena dibiayai dari hasil madat. Para orang yang mengerti agama dan malah memilih merokok bahkan di akun twitternya digambarkan sedang merokok,harusnya mereka paham bahwa dia sedang menyebarkan agama baru. Agama para perokok dengan rokok sebagai tuhannya. Para Kyai itu jelas sedang menyulut persekot nerakanya sendiri. Ada juga yang beranggapan : “aku pernah nggak ngerokok, kamu belum pernah ngerokok, maka nggak bisa ngerasain”. Ah sama saja sih dengan madat.

Sebenarnya saya ingin kembali mengatakan : Masalah rokok dan tidak merokok sudah menjadi bagian yang berpotensi perbedaan SARA. Si perokok tentu tidak ingin diperingatkan karena merasa nyaman dengan madatnya tersebut. Ketika diperingatkan, sang perokok justru akan berkata : “Kalian justru yang tidak bisa menghormati orang merokok”. Segala sesuatunya menjadi terbalik ketika orang sudah di bawah pengaruh madat. Akhirnya jika si tidak-merokok berusaha menghargai perbedaan itu, justru ajakan merokok hingga gangguan akibat merokok orang lainlah yang akan didapat oleh orang yang tidak merokok. Betapa menderitanya. Jika sudah begini si perokok dengan culasnya akan mengatakan : “Daripada merokok pasif mendingan sekalian jadi perokok aktif”. Itulah jurus-jurus keculasan para perokok.

Sekali lagi saya sangat sadar tulisan ini tidak akan mengubah apapun. Saya sangat ingin bertoleransi, namun ingin toleransi secara adil. Saya tidak peduli kesehatan para perokok akibat rokok. Itu urusan pribadi mereka. Tapi saya juga ingin tidak terganggu asap rokok, dan akibat-akibat buruk dari rokok. Dan entah, apakah akhirnya saya hanya mengandalkan doa orang teraniaya saja ketika harus tersiksa akibat orang lain merokok..

 

 

From → Coretan

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: