Skip to content

Kegilaan, Perubahan dan Logika

Desember 9, 2012
Satu kalimat bertuah dari Einstein yang cukup terkenal adalah :

Insanity: doing the same thing over and over again and expecting different results.

Sebuah kegilaan, mengerjakan sesuatu seperti itu dan seperti itu lagi dan mengharap hasil yang berbeda. Sepertinya memang benar apa yang dia katakan. Jarang diantara kita mau berubah dengan sebenarnya. Kebanyakan insan ingin berubah, dengan segala macam pemeo: ‘yang penting mimpi’, ‘yang penting yakin’, ‘Tuhan pasti memberi’, dan lain sebagainya, namun kita tidak pernah ada usaha positif ke arah tersebut. Mimpi, yang sering digembar-gemborkan, hanyalah sebatas mimpi jika lupa akan bangun, akhirnya hanya sebagai pembelaan diri akan kemalasannya berubah.

Mengapa pada enggan berubah? Karena berubah membutuhkan pengorbanan. SACRIFICE. Sementara kita sendiri adalah pemalas untuk beranjak dari kondisi yang menurut kita nyaman karena terbiasa. Kita adalah katak dalam jerangan air panas. Seekor katak, konon dia akan langsung melompat ketika dimasukkan dalam air panas. Namun katak tidak akan melompat jika air dingin terpanaskan bertahap. Hukum Newton tentang inersia dan kelembaman juga berbicara disini. Usaha yang diperlukan untuk memindahkan sebuah benda diam, akan lebih besar daripada ketika benda telah bergerak. Selain inersia, gesekan juga berpengaruh. Usaha yang diperlukan untuk mengubah kecepatan gerak benda bergerak, juga tentu akan lebih besar daripada jika benda sudah mapan bergerak dengan kecepatan konstan. Silakan direnungkan.

Sementara, kadang dengan ‘cerdas’nya kita sering mengatakan : lebih baik kerja cerdas daripada kerja keras. Seringkali kata itu hanya menjadi pembelaan diri bagi para parasit yang malas bekerja, dengan mengakali rekan bekerjanya. Silakan melihat dan berkaca pada Diego Mendieta yang harus secara fatal meninggal karena gaji tak terbayarkan. Itulah wujud parasitisme di Indonesia dan kebanggaan ‘kerja cerdas’ tersebut. Si ‘pekerja cerdas’ tersebut biasanya juga akan akan ketakutan ketika menghadapi segalanya sendirian, biasanya dia akan mencari tumpangan perusahaan lain untuk teman dengan menggantungkan nasib pada pihak lain.

Lalu, masihkah kita merasa nyaman dengan kenyamanan ini? Bergerak, berkorban, adalah sudah sepantasnya bagi kita. Banggakah nasib harus berubah karena orang lain yang mengubahnya?

From → Coretan

One Comment
  1. Satu lagi quote ne mbah einstein yang nin suka : “You dont understand if you cant explain it simply”… Hehe *sekiranyabegituintinya*😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: