Skip to content

Siapa Merusak Bahasaku?

September 13, 2013

Luangkanlah waktu untuk sekejap memahami beberapa kosakata dalam dua bahasa ini. Apakah anda termasuk lebih sering menggunakan kata :

Efektif
Efisien
Pink
Orange
Level
Kondisi
Komplain
Gradasi
Posisi
BTW

daripada

Mangkus
Sangkil
Merah Jambu
Jingga
Tahap
Keadaan
Sangkal
Nuansa
Letak
Ngomong-ngomong

Atau jangan-jangan pada bagian bawah, ada kata yang tidak anda ketahui? Padahal arti dari bagian bawah itu adalah seperti yang lebih kita ketahui pada kelompok atas. Saya telah melakukan pertanyaan pada puluhan orang tentang kata Mangkus, Sangkil, Nuansa. Hasilnya adalah untuk kata Mangkus dan Sangkil : 100% tidak ada yang faham mengenai kosa kata tersebut. Sedang kata Nuansa, 100% menjawab: Nuansa adalah suasana.

Saya juga mendengarkan bagaimana guru-guru PAUD dan TK anak saya dalam mengajarkan warna. Ternyata sempat seorang guru PAUD harus berdebat dengan muridnya tentang warna JINGGA. Sang Guru mengatakan bahwa itu ORANYE atau ORANGE, sementara anak saya bersikeras bahwa itu adalah JINGGA. Saya anggap anak saya benar, karena saat itu sedang membicarakan warna dalam bahasa Indonesia. Tidak lagi saya mendengar kata warna Merah Jambu. Yang sering terdengar adalah PINK. Kasus-kasus warna ini lebih parah lagi masuk ke ranah bahasa Jawa. Tidak lagi orang tahu “Kuning Tela” atau “Jambon”. Mereka lebih memilih istilah asing sekalipun mereka tinggal di desa-desa.

Masyarakat juga lebih sering menggunakan kata AKU, sekalipun itu untuk keadaan bahasan yang istilah asingnya “formal“. Tidak lagi mereka bisa membedakan kata AKU dan SAYA. Kata KAMI dan KITA, jelas mengalami hajaran pergeseran makna cukup besar. Sering terdengar kata “kita-kita”. Padahal KITA adalah kata ganti orang pertama jamak, yang melibatkan orang yang diajak berbicara. Sedang kata KAMI, adalah kata ganti orang pertama jamak, dengan tidak melibatkan si lawan bicara.

Contoh  :

“Kita-kita ini datang kepada bapak untuk mengajukan suatu penawaran”

Kata semacam ini sering kita baca dan dengar di mana-mana. Padahal, seharusnya kata “kita-kita” disitu seharusnya adalah “kami” karena si lawan bicara tidak terlibat. Bahkan, lebih parahnya, khalayak benar-benar tidak mengerti beda kami dan kita. Cobalah tengok untuk kasus : Kalian, Kau, kamu, anda.. Dalam obrolan saya dan beberapa teman di twitter, justru terungkap bahwa KAMI dan KITA ini unik, karena kasusnya tidak dijumpai dalam bahasa lain, misal bahasa Inggris, mereka menggunakan WE, tanpa bisa dibedakan mana yang melibatkan si lawan bicara.

Pernahkan dengar kata semena-mena? Bagaimana pembacaannya dan apa artinya? Seringkali kata itu terbaca dengan lafal/pengucapan pada vokal E seperti cara membaca DENGAN, EMPEDU. Padahal seharusnya kata tersebut dibaca seperti pembacaan kata TEMPE. Semena-mena. Arti semena-mena , adalah dengan sebaik-baiknya. Sayangnya khalayak rancu membedakan dengan sewenang-wenang. Kata “dimungkiri” tidak lagi banyak dijumpai di media massa. Khalayak lebih senang menggunakan kata “dipungkiri”. Sementara sebenarnya kata dasar dari kata tersebut adalah MUNGKIR, berasal dari serapan bahasa Arab : MUNGKAR.

Contoh-contoh diatas adalah sebagian dari kekeliruan-kekeliruan yang terjadi dalam berbahasa. Sebenarnya tidak menjadi masalah jika hal itu terjadi di dalam kehidupan non-formal. Bahasa prokem dan lain sebagainya memang bisa saja untuk pencair suasana. Namun sangat disayangkan jika dalam bahasan formal, kata yang telah ada dalam bahasa Indonesianya, justru lebih dipilih bahasa lain, karena tidak diketahui artinya dalam bahasa Indonesia. Bolehlah dilihat dalam laporan-laporan skripsi, tugas akhir, laporan teknis yang terserak di Internet, akan dijumpai banyak sekali kata-kata kerja aktif dengan kata ganti orang pertama masuk dalam laporan tersebut. Misal:

Setelah hitungan tersebut, maka kita lanjutkan dengan memasukkan hasilnya pada rumus selanjutnya

Padahal, seharusnya dalam bahasan laporan teknis, skripsi, thesis, desertasi, kata tersebut tertulis demikian:

Hasil dari hitungan tersebut dapat diterapkan pada rumus selanjutnya, yakni:

Nah, jangan-jangan justru lebih banyak lagi yang tidak mengetahui hal ini. Sebagai tambahan informasi, kata keliru diatas, saya temukan dalam sebuah naskah THESIS S2 yang dilanjutkan menjadi sebuah tulisan ilmiah PRA S3. Luar biasa sekali institusi yang bisa meluluskan kalimat tersebut pada tingkat THESIS S2. Saya masih ingat kata guru saya zaman dahulu :

“Gantilah kata ‘kita me…’ dengan ‘di..’ pada setiap laporan yang sifatnya penting dan formal, selain pada halaman penutup dan saran. Hindari kata ganti orang pertama dan gunakan sesedikit mungkin kata kerja aktif.”

Saya memang bukan ahli bahasa. Namun jika saya yang tidak banyak tahu bahasa ini masih bisa melihat banyaknya kesalahkaprahan yang dilanjutkan, dan justru makin dirusak, tentunya para guru saya di masa lalu sudah putus asa memikirkan cara memperbaiki bahasa ini. Belum lagi hajaran media jejaring sosial yang kerap kali mempopulerkan kata-kata salah dengan cara saling menirukan kata-kata orang bodoh, setelah mereka mentertawakannya sebelumnya. Tulisan ini hanya sebuah wujud ungkapan uneg-uneg saya sebagai orang yang harusnya masih merasa memiliki bahasa Indonesia.

Tulisan ini juga dipost di http://bimolukar.blogspot.com/2013/09/siapa-merusak-bahasaku.html

From → Coretan

9 Komentar
  1. Saya ingat.. gaya penulisan “kita-kita” itu pertama kali dipopulerkan oleh Hilman dalam novel “Lupus” di era pertengahan 80’an, dalam novel remaja itulah bertaburan bahasa-bahasa slank yang menabrak pakem, yang dirasa lebih asyik bagi remaja-remaja di jamannya.

  2. Bahasa-bahasa pergaulan memang muncul di tiap generasi mas. Apalagi di era 80-90 sebagai era keemasan anak muda, siapa yang tidak kenal generasi Metal, Slenge’an, Lupus dan lain sebagainya..

    Namun bedanya adalah, di masa lalu kontrol dari guru sangat kuat. Misal saja, jaman saya, dilarang mengatakan PUTRI adalah CEWEK, atau PUTRA adalah COWOK. Sekalipun bukan guru bahasa, namun ketika menangkap basah seorang siswa yang mengatakan cewek atau cowok, bisa kena hukuman, karena saat itu istilah cowok cewek itu berkonotasi jelek.

    Sekarang, guru pun ikut berbahasa rusak seperti di twitter, karena ingin terlihat gaul..

  3. Bahasa itu sifatnya cair, bergerak seiring jaman dan mudah berubah2…
    Bahasa baku merupakan wujud pemertahanan dari bahasa yang asli dan seyogyanya ragam tulen itu tetap dipertahankan.

    • Zetuju mbang.. sayang e.. media massa justru merusak😀.. njur leh mempertahanke piye, karena segala yang tanpa aturan itu enak😀

  4. Kang Bimooooo! Auooooo! *komen gak jelas, cuma asal nongol…ha…ha…ha*

  5. Nuansa nama teman saya😀 dan di sekolah saya tidak ada puteri/cewek juga putra/cowok yang ada ASPI dan ASPA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: