Skip to content

Kapitalisme Di Mana-mana

Maret 24, 2014

80338-bocahsinau

Istriku : “Mas, Zaki nilai hitung-hitungannya 70.”

Saya : “Terus kenapa?”

Istriku : “Gak apa-apa, cuma kemarin ditanyai kok Zaki cuma dapat segitu?”

Saya: “Terus dijawab apa?”

Istriku: “Ayahnya Zaki tidak suka, dan ingin membiarkan anaknya belajar biasa saja.”

Istri saya menyodorkan lembaran ulangan hitung-hitungan PRISMA Jarimatika untuk anak kelas Nol Besar, yang diadakan sebagai jam tambahan di TK Pertiwi Setda Kabupaten Wonosobo. Saya merasakan bahwa dulu jaman saya TK juga tidak perlu seperti itupun saya bisa dapat nilai Kalkulus A beberapa kali di jaman kuliah. Bahkan dulu jaman saya sekolah saya juga merasa bodoh dan tak bisa apa-apa. Sedangkan yang dulu pandaipun juga tidak keliatan amat jaman sekarang.. Tidak usah saya lah.. Toh Einstein dianggap gagal sekolah, dan Einstein bisa menuduh balik bahwa sekolah gagal mendidiknya.

Bagi saya, Jarimatika, Sempoa atau apalah namanya yang dipaksakan pada anak usia dini untuk mencari keuntungan adalah sikap kapitalisme. Coba bayangkan. Anak belum faham apa itu angka, ternyata sudah disodori rumus praktis. Tanyalah pada anak TK yang belajar jarimatika, sodorkan lima jari anda, tanyakan:”Ini angka berapa. 5 atau 9″. Sebagian mereka akan bingung. Hakekat angka adalah 5, sedangkan menurut jarimatika adalah 9. Namun memang Jarimatika atau apalah namanya ini juga hanya merupakan usaha kapitalis dalam mencari uang. Salah satu URL dapat dilihat di http://prismakalkulatortangan.co.id/peluang_usaha/ yang mana model franchise ingin dikembangkan sesuai dengan pola-pola bisnis.

Kapitalisme, saya anggap sebagai sebuah penghisapan, atau eksploitasi satu pihak terhadap pihak lain. Pemaksimalan prinsip ekonomi yang seharusnya sekecil effort dengan setinggi profit, dimaknai dengan “no-service” “high-profit” dan lain sebagainya. Ataupun mengambil berbagai keuntungan dengan seolah-olah benefit, namun sebenarnya memiliki resiko-resiko yang tidak baik untuk obyek jualan mereka.

Beberapa waktu lalu saya pernah posting tentang keluhan saya tentang anak kecil yang telah dibebani dengan banyak hal. Saya heran saja, apakah para guru tersebut tidak faham tentang adanya Edaran tentang tidak disarankannya anak kecil belajar CALISTUNG? Telah banyak teman-teman saya yang secara akademis pandai hingga Strata berapapun, kepandaian sejak sedini mungkin namun mereka hanya akan bisa sebatas itu, tidak faham bagaimana bersosialisasi, ajaran kesopanan, bahkan tak sanggup bertempur di arena kehidupan. Hanya bisa mencari jalan pragmatis, sesuai apa yang diajarkan sejak kecil.

Saya tidak ingin anak saya dianggap pintar di usia dini. Saya hanya ingin sejarah “kepandaian” itu tidak lagi berulang. Karena berapa lama kita harus belajar Matematika, Jarimatika, Sempoa dan lain sebagainya yang sebenarnya sangat mudah dipelajari ketika telah sedikit lebih dewasa, namun mereka lupa, butuh waktu belasan tahun untuk mendidik karakter anak, sifat, sikap dan perilaku emosional.. Saya dulu jaman TK, TK Katolik. Tidak diajari lebih dulu seperti itu, hanya dikenalkan. Toh juga bisa-bisa saja.. Buat para ortu, selamat berbangga saja, waspadai masa depannya.

 

Borjuis itu bukan keadaan. Borjuis itu watak. Borjuis itu bukan harus orang kaya.. Kapitalis bisa dilakukan siapapun, berlabel apapun!

From → Tak Berkategori

12 Komentar
  1. pernah saya baca sebuah artikel…. mungkin dari seorang pendidik…. “kita hanya butuh waktu sekitar 3 bulan untuk menjadikan anak kita pandai berhitung, tetapi kita butuh waktu belasan tahun untuk mengajarkan anak bisa disiplin mengantri”

    nyatanya…. pelajaran budi pekerti sudah berkurang di sekolah

    • BETUL banget bang Jampang.. itu yang terjadi pada kita😦 Kita itu lupa, sering bangga kalau anak bisa ngapa-ngapain duluan.. padahal ada banyak hal lucu yang bisa dilakukan oleh anak kita, selain hal itu..

  2. Bener banget… Ada pendidikan yang khusu untuk umur 3 tahun juga lohh…

    Dan ini postinganku yang mirip dengan yang mas angkat.

    http://firstychrysant.wordpress.com/2013/12/29/les-membaca-buat-anak-3-tahun-4-tahun/

    dan

    http://firstychrysant.wordpress.com/2014/01/03/masuk-tk-dan-sd-sepertinya-mengerikan-ya/

    • Makasih mbak postingnya.. saya baca.. dan memang benar ada edaran dari Diknas yang merekomendasikan agar anak kecil tidak belajar calistung. Bahkan Test masuk SD juga dilarang calistung.

  3. Kasian anak-anak sekarang, bebannya besar banget jadi kadang ga sesuai sama umurnya.

    • ya itulah produk kapitalisme. RSBI sebagai program marketing kapitalis telah selesai. Kali ini muncul di kalangan anak kecil….

      • Ia ya, mau masuk SD aja harus penuh persaingan dan test. Padahal jalan hidup ke depan aja masih panjang … ada banyak hal yang gak melulu tentang angka.

      • SD Sekarang sudah dilarang Test Calistung. Ada edaran yang menyebutkan hal itu🙂. tersebar di search engine

      • Ia mas Bimo, siip klo begitu mah ya🙂

  4. Waduh… jam tambahan kok malah diajak belajar hitung-hitungan. Di usia dini, hal yang seperti itu sama dengan memenjarakan kreativitas. Anak sudah dituntut untuk belajar ilmu pasti.

    • Maka saya membiarkan saja kalau misalnya di jam itu anak saya memilih pulang nyantai..😀

      dulu jaman PAUD juga sudah saya ajarin DO karena hal-hal yang serupa🙂.. pola kapitalisme yang seolah-olah memandaikan anak.

Trackbacks & Pingbacks

  1. Soal Hitung-hitungan Anak TK (masih tentang kapitalisme pendidikan anak) | Bimosaurus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: