Skip to content

Pariwisata, Antara Komoditas dan Kapitalisme Warga

April 1, 2014

IMG_0697

 

Liburan kemarin, saya coba membawa anak istri naik ke Dieng. Saya coba menjangkaunya dengan melalui jalur Garung – PLTA – Telaga Menjer – Kreo – Kejajar dan Dieng. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat di daerah Pathak Banteng ternyata ramai macet, karena ternyata ada salah satu rumah yang dijadikan basecamp pendakian Gunung Prau yang dulunya sepi tak ada orang mau naik, kini menjadi komoditas yang sangat menjanjikan. Setelah bukit Sikunir, kini pusat perhatian obyek wisata Dieng mengarah ke Gunung Prau. Sebuah bukit di atas Dieng yang memiliki Panorama luar biasa juga. Di atas sana bisa melihat awan di bawahnya, Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran dan Lawu.

Masyarakat sangat diuntungkan dengan naiknya perekonomian akibat efek lanjut dari komoditas yang telah disediakan Tuhan tersebut. Dari homestay, warung makan, pemandu, porter, dan lain sebagainya, adalah anugerah untuk penduduk setempat. Berbagai macam tempat wisata yang semula terselubung di area Dieng, kini mulai satu persatu tersibak dan menjadi sebuah obyek yang menarik untuk dikelola. Meski demikian ternyata masih banyak juga obyek indah yang tidak diketahui banyak orang.

Sayangnya, dalam sebuah parkir motor, saya merasakan betapa warga setempat pun sudah mulai melakukan praktek kapitalisasi, apa-apa uang. Bahkan penyediaan ongkos masuk daerah pariwisata tanpa karcis. Tidak satu dua. Menengok hal yang sama, di Gunungkidul daerah yang pariwisatanya sama gencarnya dengan Wonosobo – Banjarnegara, ternyata jangkauan jemputan / mencari pelanggan Gua Pindul dan sekitarnya sudah masuk di area Bukit Pathuk yang jaraknya 30-40 KM dari lokasi. Sungguh usaha yang kemaruk hebat. Bahkan di daerah antara Magelang dan Kulonprogo pernah ada wisata kerokan, sebuah usaha wisata yang konyol dan tak masuk di akal. Lantas para marketing membawa turis dipaksa melihat kerokan seperti halnya orang melukis tengkorak di atas kulit orang lain.

Saya, kali ini, lebih melihat pariwisata itu sebagai usaha Kapitalisme yang memanfaatkan narsisme orang. Jaman moderen tiap orang dapat memiliki media jejaring sosial, proses kapitalisme itu dengan mudah menggapai misinya, mengeruk keuntungan sebesarnya tanpa effort yang memadai, bahkan kadang dilakukan dengan pencurian konten, membohongi publik, yang penting keinginan akan keuntungan tercapai.

Kalau sudah begini, saya ingat kata kanjeng Konfusius :

“Orang hebat itu tahu mana yang benar. Orang rendahan itu tahu mana yang akan dijual”

From → Coretan

2 Komentar
  1. wisata kerokan… ngeliat orang dikerok… bayar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: