Skip to content

Soal Hitung-hitungan Anak TK (masih tentang kapitalisme pendidikan anak)

April 19, 2014

prismasuck

Gambar ini, bukan soal untuk anak SD. Ini saya dapatkan pada soal-soal hitung-hitungan anak saya yang masih TK nol besar. Soal ini harus selesai dalam waktu 1 jam untuk 50 soal. Semula memang saya dikeluhi istri tentang pelajaran tambahan yang wajib dihimbaukan pada semua anak TK Pertiwi Setda Kabupaten Wonosobo. Alih alih bilang setda, malah setdah!

Saat itu saya memilih agar anak saya tidak usah belajar dan mengerti secara alami pelajaran itu. Pelajaran itu adalah pelajaran Jarimatika yang mengajarkan cara cepat dalam berhitung. Saya tidak menolak cara tersebut. Namun saya tidak setuju karena anak TK itu seharusnya baru tahap mengenal angka dan huruf. Namun mengapa sudah diajarkan rumus praktis yang akan mengajarkan anak cara yang pragmatis di kemudian hari?? Saya tengok Zaki anak saya setelah sekolah masih ada PR berhitung Jarimatika yang diadakan oleh lembaga swasta bekerja sama dengan TK nya, kemudia sore masih harus mengaji, sementara untuk Senin pulang sekolah sudah jam 10.30. Itu pun teman-temannya sudah pada memilih GURU LES di luar (yang juga guru sekolahnya) untuk belajar membaca dan berhitung.

Saya memang membiarkan anak saya akhirnya tidak belajar yang perminggunya diberikan PR sebanyak 10 halaman yang masing-masing berisi dua larik soal, yang masing-masing berisi 4 deret hitungan. Saya toh jaman dulu tidak harus melewati hal itu di TK, toh saya jaman kuliah lancar saja melewati semua kalkulus.

Saya memandang hal ini mengerikan. Pragmatisme disertai kapitalisme para pencari konsumen di bidang pendidikan, dan kebetulan juga mengajarkan hal yang sifatnya instan yang tidak mendasar pada anak. Para peserta jarimatika di usia dini cenderung ragu menjawab ketika disodorkan lima buah jari tangan kita: “INI ANGKA BERAPA?” Mereka masih bingung untuk membedakan apakah itu angka 5 ataukah 9. 5 Pada hakekatnya memang hal itu angka 5. Sedangkan 9 didapat dari rumus praktis yang dipelajari dalam jarimatika.

Saya kurang tahu, apakah hal ini terjadi karena ketidak tahuan atau kenekatan. Namun sebenarnya, edaran tersebut harusnya telah sampai ke tingkat desa. Edaran yang menyebutkan bahwa anak kecil, usia TK dilarang untuk diajarkan CALISTUNG, kecuali pengenalan. Ini sudah bukan pengenalan lagi. Ini pelajaran anak SD. Bahkan test masuk SD pun, tidak diperkenankan menggunakan CALISTUNG ini. Saya juga kurang tahu, apakah penyelenggara jarimatika ini juga tidak mengetahui kebijakan tersebut, atau juga nekad karena butuh income. Saya menghormati semua pihak dalam mencari nafkah. Saya sendiri hidup dari dunia pelatihan, a.k.a kursus. Namun kita harus faham siapa target kita, apakah kita memaksa, dan tentu kita faham regulasi atau kebijakan yang ada dalam cara kerja kita.

Saya hanya merasa kasihan pada anak saya saja. Sudah saja orang tuanya dan kakek neneknya “galak” masih juga dapat tekanan di sekolah yang belum sesuai dengan kemampuannya. Mungkin dipaksa mampu pun mampu, namun saya khawatir memori otak anak akan bekerja keras dan memaksa pada bagian sosialisasi pemahaman nilai-nilai kehidupan, akan hilang dimakan oleh soal-soal pengajaran pragmatisme. Maka saya percaya mengapa para anggota DPR, orang-orang politisi, dan lain sebagainya bertingkah seperti anak kecil yang tidak punya nilai. Mereka pintar, tapi tak punya nilai, karena masa muda dan kecilnya habis untuk belajar pelajaran pragmatisme.

Rujukan:

http://www.paudjateng.com/2013/07/kemdikbud-tegaskan-larangan-ujian.html

http://www.bppaudnireg1.com/beritautama/calistung-tidak-boleh-diajarkan-langsung-di-tk.html

Edaran Kemdiknas dapat diunduh di sini:

From → Coretan

9 Komentar
  1. Ponakanku paling males disuruh belajar, apalagi matematika.

  2. sepertinya sekaranng, taman yang paling indah bukan lagi taman kanak-kanak

  3. Saya sependapat dengan isi tulisannya mas Bimo ini.
    Memang terasa aneh, berbagai himbauan bahkan surat edaran untuk melarang pengajaran calistung di sekolah TK itu tidak disertai dengan sanksi, minimal sanksi administratif, yang berakibat surat-surat sakti tersebut tidak lebih dari macan ompong. Sekolah-sekolah TK tetap memberlakukan jurus mabuk matematika kepada para anak didiknya.

    • Maturnuwun komentarnya mas Iwan. Saya dengar (sementara masih isu dan saya belum buktikan) untuk test SD nya pun di tempat kami masih pakai Test Calistung. Tapi nanti ketahuan ketika anak saya akan masuk🙂

      Masalah calistung di TK ini dulu memang cuma isu, dan saya belum membuktikannya saat itu, sekarang seluruhnya terbukti. Aneh ya mas, negeri ini, yang sifatnya issue malah benar benar ada, dan apa yang sifatnya pernyataan, itu adalah alasan.

      Istri saya sih sempat protes ke penyelenggara, tapi agak nggak enak juga sih, masalah cari makan orang. Meski caranya tidak bener. Istri saya, hal ini bukan tidak tahu, karena istri saya lulusan pendidikan juga, di Universitas kependidikan negeri di Yogya.

  4. edi permalink

    Benar mas, sistem pendidikan skrg didesain hanya agar anak survive di dunia pendidikan itu sendiri. Di dunia nyata belum pasti.
    Pendidikan ketrampilan malah diabaikan.

    • di Jepang, anak dibiarkan dengan menggunakan sepatu tali untuk melatih motorik, di Indonesia dicarikan yang gampang.
      Di jepang anak tidak langsung dilatih berhitung, tapi diajarkan nilai kedisiplinan sejak kecil, bukan hitung pragmatis..

      itu kenyataan di Indonesia.. mending buat negara sendiri ya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: