Skip to content

Sebuah Permohonan Maaf, Pilpres, Kompetisi dan Klasemennya

Juli 7, 2014


Saya pendukung klub sepakbola Manchester United (MU). Saya punya alasan kuat mendukungnya, sejarah mereka, kegigihan, dan semangat yang dibangun di dalamnya. Saya tidak punya andil apa-apa pada MU selain mendoakan mereka selalu menang, untuk menjaga ego diri agar tidak malu terhadap teman-teman pendukung tim lain. Bahwa sepakbola sering terjadi kecurangan, MU sering dicurangi, dan sering mencurangi, adalah benar. Sebuah bagian dari kompetisi dengan keterbatasan kontrol wasit yang tentu manusiawi. MU juga pernah memalukan kalahnya atau posisi klasemennya. Toh dalam ejek mengejek antar teman, saya juga tidak dendam.

Ramadan ini, klub lain dukungan saya, Belgia, harus hilang dari daftar semifinal. Dia harus habis lebih dulu di perempat final. Ya, oke, ndak apa-apa. Ramadan ini, ada kompetisi lain. Ini lebih besar dan tidak sekedar masalah ego. Ini adalah keyakinan perubahan ke depan. Yaitu pemilihan Presiden baru. Sebuah prosesi yang amat penting bagi bangsa ini, bukan sekedar memilih juru mudi. Tapi memilih nahkoda. Pengambil keputusan saat badai, pemecah kebuntuan, dan pengambil keputusan. Tentu semua memiliki alasan memilih salah satu calon presiden (capres). Ada yang beralasan bukan memilih yang terbaik, tapi asal tidak yang terburuk. Ada yang memilih karena figur yang dihormati dan ditakuti dunia, ada yang memilih karena alasan lainnya. Sah. Para capres ini, yang cuma dua ini, telah lama menunjukkan prestasi, rintangan dan tantangan yang terjadi dalam hidup mereka tentunya. Mereka telah berkompetisi sejak pilpres ini belum digelar. Mereka telah bekerja.

Sayangnya, saya, anda, kita, semua telah mencoreng prestasi-prestasi mereka. Cara kita berkompetisi sungguh buruk. Cara kita berkompetisi, dengan kondisi kita tidak berpartisipasi dan tidak berprestasi, kita dengan mudah mengambil apa yang buruk dari para calon presiden itu. Kita  lupa, kita sedang memilih orang yang akan paling dihormati di negeri ini. Tiba-tiba kita kembali ke tabiat kita,  berdakwah dengan bercerita kejelekan pihak lain, yang tentu tidak akan membuat diri kita lebih baik.

Gesekan pasti akan terjadi. Saling tuduh, saling fitnah, saling ‘cyberbully’ telah terjadi. Betapa mudah ternyata, membuat gesekan antar kroco macam kita. Tinggal membuat dua buah kutub magnet, dan benturkan. Saya yakin, jika negara kita diserang Amerika, tentu tidak akan gampang. Karena masyarakat kita hobi mengamuk, dan akan susah dikalahkan. Tapi dengan digesek sedikit, selesai sudah.

===

Teman-teman,

Ramadan ini baru berjalan beberapa hari. Sudah rusak pahala berapa nih gara-gara beda pilihan. Sudah hilang berapa teman dari kontak facebook dan daftar saling follow di twitter? Rugi? Sejujurnya sangatlah rugi. Siapapun, tentu saling bermanfaat buat kita. Saya pernah ditolong oleh preman. Saya juga sering ditolong oleh orang yang sering saya hina karena merokok. Apakah saya tidak malu? Seharusnya kita malu. Bahkan saya masih punya hutang terhadap orang yang sering saya singgung karena rokoknya.😦 Sungguh memalukan.

Begitu juga masalah capres. Kelak kita akan malu sendiri, kelakuan kita di twitter, facebook, dalam merasa pintar sendiri dalam mengkritik para capres dalam berbagai momen kampanye mereka. Mereka manusia biasa yang tidak faham seluruh aspek kehidupan, tapi mereka bisa memimpin, bisa memanage kehidupan bangsa kita. Kita percaya itu. Keburukan yang terjadi, ya seharusnya kita simpan saja.

Pada akhirnya, saya mengungkapkan pilihan saya. Beberapa komentar saya di facebook dan twitter, sedikit nyelekit. Terlihatlah beberapa follower saya hilang. Mereka terkena pedang jari saya. Akhirnya, saya sadar, memang kita bisa saja mengkondisikan hal ini sama dengan kompetisi Liga Inggris atau sebagainya. Tapi mungkin tidak. Ini masalah keyakinan. Banyak yang akan terluka oleh kata-kata saya. Saya seharusnya faham. Kita sedang menentukan tokoh penting dalam sentral bangsa ini.

Oleh karena itu,

Ini hari-hari terakhir sebelum pilpres dimulai. Saya pun wajib meminta maaf. Pada siapapun yang telah terluka, atau siapapun yang telah merasa terbela dengan kata pedas saya. Seharusnya saya tidak melakukan itu. Sayapun menyatakan minta maaf atas kelakuan saya, yang efeknya tidak baik bagi perkawanan. Saya telah menyumbang perpecahan bangsa. Saya berharap sekali teman-teman saya masih menganggap ini seperti permainan simpatisan Liga Inggris atau Eropa, atau Piala Dunia. Bahwa semua orang memiliki pilihan, argumen, deskripsi, latar belakang, dan alasan memilih adalah hak mereka. Bukan hak kita memberikan cap mereka salah, benar atau apapun. Apalagi pada mereka yang telah berjuang.

Pilihan boleh beda. Konon sistem demokrasi ini bagaimanapun adalah pilihan terbaik untuk negeri ini, diantara sistem penentuan pemimpin bangsa yang lainnya. Saya, bapak saya, ibu, dan istri saya memang berbeda pilihan. Bayangkan saja jika isi twitter saya terbaca bapak saya. Bayangkan juga jika bapak saya yang membuat twitter macam itu dan saya yang membaca. Segala macam cara tak santun itu adalah tekanan. Segala macam tekanan akan menimbulkan reaksi. Seorang berfollower banyak, tentu jauh lebih efektif melukai hati orang lain. Lebih efektif juga dalam membuat reaksi dan kemudian mendapat doa yang tidak baik efeknya. Kebetulan saja saya bukan orang berfollower banyak.

Kita itu bukan apa-apa. Hanya disuruh memilih saja ributnya minta ampun. Suruh bekerja juga belum tentu bisa apa-apa. Apa kita sudah bermanfaat bagi bangsa? Cuma memilih saja lho. Pada akhirnya siapapun presidennya, kita tetap harus bekerja bukan? Atau jangan-jangan apa yang kita teriakkan karena kita depresi akan masalah hidup kita sendiri? Mulai fahami. Siapkan diri siapapun yang yang kelak akan berkuasa, apa resiko yang harus kita hadapi? Kalaupun takut seseorang berkuasa, dia hanya segelintir diantara 200 juta manusia Indonesia. Siapapun yang terpilih, justru wajib kita dukung dan kita kontrol. Jangan-jangan SBY menjadi buruk prestasi justru karena kita tidak mendukungnya?? Satu kemungkinan saja. Saya yakin, jika belum merasakan kepemimpinan dan kita sudah mengecap buruk, itu adalah dari ego kita sendiri.

Teman-teman, masih mau melanjutkan pertempuran kata??? Saya tidak.

 

Sayapun minta maaf lahir dan bathin pada teman-teman atas segala kelakuan saya dalam masa kampanye pilpres ini.

 

 

gambar-impian-capres-jokowi-dan-prabowo7

 

gambar diambil dari http://simomot.com/2014/05/29/tak-ada-lagi-black-campaign-jokowi-vs-prabowo-gambar-lucu-dan-impian-si-momot/gambar-impian-capres-jokowi-dan-prabowo7/

From → Tak Berkategori

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: