Skip to content

Sebuah Fragment tentang : Nyooot!!!

September 1, 2014

Malam kian gelap, tracking semakin curam dan sunyi. Sementara awan kabut telah mulai tertembus dan mulai tertinggalkan di belakang sana, di bawah. Saya melakukan hiking seorang diri pada sebuah gunung di kabupaten saya. Gunung Sumbing 15 November 2003. Bertemankan sebuah radio saku, dengan lagu-lagu Slowrock Ballads yang diputar di beberapa radio Jawa Tengah saat sabtu malam, perjalanan membuang energi itu menjadi semakin asyik. Suhu sangatlah dingin dengan terpaan angin setengah badai. Terlalu lama berhenti adalah keputusan buruk yang dapat menyebabkan bekunya seluruh saraf.

Pukul 2 lebih, saya melewati pendaki yang sedang duduk di sebuah tempat gelap dan sayapun menyapanya : “leren mas?“. Rupanya yang menjawab seorang wanita agak takut-takut : “teman saya sakit mas“. Sayapun memilih menepi dari track. Menyorot mereka sebentar, ternyata sepasang cowok cewek. Si cowok berbadan tinggi besar sedang terbaring di tanah, dan si cewek berambut panjang sedang duduk kedinginan di sudut batu. Saya mencoba membuka kaos tangan si cowok, memeriksa nadi dan suhu badannya. Nadinya lancar, hanya memang dingin sekali. Sayapun mulai berpikir, sembari beristirahat, alangkah baiknya membuat minuman hangat. Setelah dua menitan repek (mencari ranting kering), membuat api, sayapun mulai menjerang air dalam cangkir-rantang logam. Energen plus jahe sachet. 5 menitan, mendidih dan sayapun bilang ke mbak itu:”Mbak masnya bangunkan, ada jahe energen, lumayan“.

Si cowok itupun dibangunkan, terbangun lemah dan tetap masih berbaring. Saya tawarkan : “Mas, wedangan dulu mas biar kemepyar, encer bekunya“. Si cowok dalam kondisi itu reflek tangan kirinya meraih cangkir-rantang tersebut. Saat itulah saya baru ingat,  kaos tangan belum dia pakai lagi, dan saat tangannya menyentuh cangkir dan bukan gagangnya, mulut saya pun spontan bilang :”Nyoooot!!!!“. Si cowok terperanjat kepanasan. Badannya yang masih sangat dingin dan harus berhadapan dengan benda mendidih, membuat refleksnya muncul. Badannya yang masih berbaring meloncat terangkat sedikit, dan kepalanya terbentur batu.

Sayapun tertawa mengakak hingga berpegangan perut. Si mbaknya sepertinya agak kebingungan mengapa saya tertawa. Si cowok pun mengurungkan niatnya mengambil cangkir. Saya pun masih setengah tertawa melanjutkan :”Aaayo, ambil saja, habiskan, saya masih bawa stok hahahaa.. Pakai tangan kanan mungkin mas“. Si cowok setengah curiga, sambil dibantu si mbak memasang sarung tangannya kembali, lantas dengan tangan kanannya mengambil cangkir rantang tersebut. Mungkin karena sarafnya agak kedinginan disertai dengan perut yang tak berisi, si cowok pun berusaha memasukkan apapun yang bisa dimakan saat itu ke mulutnya. Saat itulah saya spontan bilang lagi :”Nyooot!!“. Si mas itu terkejut ketika sadar yang menempel di bibirnya adalah cangkir logam panas. Diapun cengar cengir.. Saya ngakak cukup lama. Mereka yang belum kenal sayapun memilih diam, dan si cewek mengambil cangkir plastik dari tas si cowok, dan menuangkan air mendidih itu ke cangkir plastik. Si cowok minum dibantu si cewek. Beberapa teguk, dan habis. Berusaha menghangatkan diri, mereka pun berusaha mendekati api, dan saya masih sedikit tergelak dengan ulah mereka. Sesekali mereka melirik pada saya dan seperti berusaha mencoba mengenali siapa saya. Sayapun kembali memasak air panas, dan sayapun meminum dengan sedotan yang sudah saya siapkan. Sayapun bilang:”Maaf sedotan hanya dua. Satu buat besok di kost“.

Kami berkenalan sedikit dan berbasa-basi, mereka adalah sepasang mahasiswa/i sebuah perguruan tinggi swasta di Yogya. Mereka sebenarnya cukup takut dengan kondisi “down” dan hypotermia seperti itu. Ditambah lagi dengan isu yang ada bahwa gunung tersebut adalah gunung yang banyak begalnya (penyamun) di lerengnya. Berita kejadian dua orang yang meninggal sebelum pendakian kami juga menambah mencekamnya suasana pikiran si cewek. Mereka tak lupa menanyakan kenapa saya mengakak seperti tadi. Rupanya mereka sangat penasaran. Sayapun menjelaskan:”Di gunung, orang yang tidak sedang down, akan lebih gampang tertawa. Tingkah kikuk kalian berdua juga membuat saya tertawa setengah mati. Harusnya satu orang dalam tim yang masih tahan dengan tekanan udara rendah dan suhu dingin, harusnya bisa menolong yang sedang tak berdaya. Biasanya wanita justru lebih tahan terhadap perubahan tekanan udara dan perubahan suhu.

Tiba-tiba dia tanya lagi:”Mengapa menolong kami?“. Sayapun menjawab:”Di tempat ini 19 Juli 1997, saya pernah ditolong oleh sekelompok mahasiswa UNS Solo, menurut mereka saat itu saya tidur dengan kondisi bibir saya sudah biru. Dengan pertolongan mereka, saya bisa kembali ketempat ini untuk mentertawai kalian“. Tiba-tiba kamipun tertawa ngakak bersama, pertanda bahwa kami telah siap kembali menembus angin besar menuju puncak. Sebuah cita-cita jangka pendek bertiga saat itu, kembali menikmati minuman hangat yang diberi celupan roti tawar, di puncak gunung saat mentari terbit nanti…

– Sebuah ingatan tentang sekian cerita yang terserak –

From → Coretan

2 Komentar
  1. Banyak cerita yah kalo naik gunung?🙂
    pertemanan, tentang siapa diri, how to help people, how to help yourself…

    Perempuan lebih bisa menahan dingin? Aku cukup sensi kalo sama hawa dingin, btw, mas …tangan kadang bisa kayak abis masuk kulkas. padahal suhu gak dingin-dingin banget. capedehemang hahaha

    • Mungkin Jeng Rana, tidak terbiasa saja kok hahaha, karena sudah terbiasa dengan panasnya Semarang kan?

      Coba tuh di Wonosobo, jalan dingin macam itu banyak lho yang pake pakean minim.. tahan dingin :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: