Skip to content

Aliran “Tanpa Jangan”?

September 29, 2014

.
.
Pada anak jangan katakan: “jangan makan itu”, tapi katakan: “makan ini saja”
Pada anak jangan katakan: “jangan berlari”, tapi katakan: “jalan saja”
.
.

Begitu bunyi salah satu propaganda kampanye aliran tanpa jangan. Banyak niat baik yang ditumbuhkan banyak kalangan dalam menyebarkan cara mendidik anak yang benar. Mendidik anak memang tidak mudah. Anak memiliki karakter sendiri dan karakter keturunan dari orang tuanya. Sehingga tiap anak memiliki cara mendidik yang berbeda-beda. Ada anak yang membutuhkan sedikit lebih ketat, ada anak yang membutuhkan dukungan positif biasa.

Belakangan muncul generasi baru, yang mengusung propaganda “tanpa jangan”. Anak dihindarkan dari kata “jangan”. Dalam beberapa propagandanya, aliran tanpa jangan ini, mengajak menghilangkan kata “jangan” diganti dengan kata perintah yang sebaliknya. Salah satu alasannya adalah menghindari tekanan pada anak dalam tumbuh kembangnya. Menghindari juga kesan bahwa orang tua itu tukang melarang, dan lain sebagainya.

Saya sendiri sebagai seorang yang sudah memiliki anak, dan sudah mulai mendidik, justru bingung dengan aliran tersebut. Saya makin bingung ketika melihat anak teman yang apa-apa tak pernah dilarang sehingga berbuat sesuka hati. Akhirnya sayapun menanyakan pada teman yang memiliki background pendidikan anak dan psikologi. Apa yang saya dapat?

Dari mereka, justru saya mendapatkan, biarkan anak tumbuh dengan wajar. Menghadapi sangkalan “jangan”, melatih diri menerima sangkalan dan mencernanya, serta memantau sejauh mana mereka bereaksi terhadap sangkalan. Pada masa dewasa kelak, sang anak tentu tetap akan menghadapi sangkalan dan larangan dari pihak lain. Kapan lagi jika tidak dilatih sejak masa kecil? Justru ditakutkan anak yang tidak pernah dilarang dan tidak pernah dihadapkan pada hal yang berbeda dengan keinginannya adalah, ketika terbawa hingga dewasa, akan menjadi pribadi yang manja yang seakan dunia akan selalu tidak berani melarangnya.

Saya juga pernah menanyakan pada beberapa rekan “aliran tanpa jangan”, mulai kapan anak tidak lagi tidak boleh dilarang? Hingga sekarang saya belum menemukan jawab. Jika yang dimaksud aliran tanpa jangan itu adalah anak jangan sampai stress, bagaimana dengan anak yang terlalu banyak diperintah? Itu juga “tanpa jangan”. Sama saja efeknya. Sebuah penjelasan lain menyebutkan bahwa mereka mengganti kata “jangan” dengan “tidak”. Namun konteksnya sama saja. Sangkalan. Anak kecil juga tidak dapat membedakan kata “jangan” dan “tidak”. Dia hanya faham sangkalan.

Memang ada, beberapa anak yang tidak bisa mendapatkan perlakuan larangan. Ini pernah saya temui di lingkungan kerabat saudara saya. Anak ini membawa kelainan down syndrome yang salah satu therapy-nya adalah tidak boleh dilarang. Jajan, berlari, dan lain sebagainya dia tidak dilarang. Ada yang saya khawatirkan yaitu ketika dia melempari anak lainnya dengan batu bata. Bagaimanapun juga naluri orang tua juga akan berkata bahwa seseorang dalam bahaya dan hazard-risk yang diakibatkan oleh anak tersebut. Maka sayapun biasanya spontan melarang : “Jangan lakukan!” Maklum bahwa saya adalah seorang yang biasa melarang.

Namun, pada akhirnya kembali lagi pada satu hal. Orang tua juga memiliki cara sendiri untuk mendidik anaknya. Karena orang tua ini cenderung lebih faham karakter anaknya sendiri. Meski ini tidak sepenuhnya benar. Sementara bagi saya, mendidik anak itu perlu kelengkapan. Hal-hal yang akan dia hadapi ke depan, mengajarkan motivasi, mengajarkan budi pekerti, dan mengenalkan sekitar, termasuk apa yang bakal dia hadapi kelak itu tidak harus sama dengan apa yang diangankan. Saya juga tidak ingin ketika kelak anak tersebut dewasa dan harus menghadapi segala hal yang mengecewakannya, dia tidak bisa menerimanya dengan lapang dada.

From → Tak Berkategori

9 Komentar
  1. Saya setuju sama pendapat sampeyan, mas Bimo.
    Anak yang dididik dengan aliran “tanpa jangan” cenderung hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Seperti contoh2 yang sampeyan tulis di atas.

    Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah mengisahkan bagaimana Lukman mendidik anaknya yang diawali dengan kata “Jangan”:
    “Wahai anakku, JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang besar” (QS. Al-Lukman:13)

    Sang ayah (Lukman) mengajari tentang pemahaman sebuah hukum, tidak hanya melarang namun juga menjelaskan kenapa hal tersebut dilarang.

    Aliran “tanpa jangan” ini hanya akan menciptakan masyarakat yang permisif, masyarakat yang tidak peka dengan permasalahan sosial di sekelilingnya. Mereka gak merasa punya keterikatan dengan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “lah itu khan pilihan mereka, yang penting gue kagak”.

    • Alhamdulillah dapat penjelasan tambahan. Mas Iwan, hidup ini senantiasa saling berbenturan keinginan manusia yang satu dengan yang lain. Kita tidak harus mendapatkan apa yang kita inginkan. Tetapi kita perlu faham dengan bagaimana orang lain itu ada.

      Kita dilatih dengan berbagai macam kondisi, kondisi sangkalan, berdebat, didukung, itu semua adalah pendewasaan diri. Sedangkan anak adalah miniatur kita, yang perlu dikenalkan dengan semua yang bakal menerpanya.. Memperkenalkan dengan apa yang disukainya itu mudah. Memperkenalkan dengan apa yang tidak diperbolehkannyalah yang tidak mudah..

      Apa kabar? Kabar baik kan mas? Mbok saya nyuwun nomer lagi mas, via FB.. kapan itu saya mampir batam🙂

      • Waduh.. kok gak kabar-kabari, mas Bim? tau gitu tak jak mlaku-mlaku ke pulau-pulau di sekeliling Batam.

        Saya jarang fb-an kecuali diskusi internal. Lama gak diskusi, gak buka fb jadi pernah hampir lupa password. Yo wis nanti kushare nomor di fb.

      • Iya mas. Terimakasih ya mas, mari kita sambung dan ramaikan kembali silaturahim kita🙂

  2. hidup itu berpasangan, jadi biar imbang harus ada perintah dan larangan😀

  3. Saya agak kurang setuju sebenarnya dengan aliran ini.

    Karena Allah SWT juga melarang.

    Jangan menyekutukan Allah.
    Jangan mendekati zina.

    Btw, saya juga lagi ngeblog untuk dakwah.
    Saat ini lagi cari-cari teman sesama blogger, mas.

    Semoga tetap semangat yah dengan tulisan-tulisannya yang tegas.

    • Salam kenal mas SemangkaKuning🙂.. Ya, saya juga masih ingat surat Luqman, disana tegas juga Luqman memberikan instruksi pada anaknya. JANGAN.

      Semoga bisa saling share tulisan ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: